27  February  2010

Will Eisner: Kontrak dengan Tuhan

Trilogi A Contract with God karya Will Eisner diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Karya sastra dalam wujud komik.

Tentang Will Eisner dan Trilogi Kontrak dengan Tuhan di Koran Tempo

Tentang Will Eisner dan Trilogi Kontrak dengan Tuhan di Koran Tempo

Bronx di awal 1930-an adalah sebuah permukiman kumuh tempat tinggal penduduk New York kelas bawah. Sebuah dunia kelam para imigran Eropa yang datang ke Amerika Serikat mempertaruhkan nasibnya. Di sanalah, di satu apartemen sempit dan kumuh, Frimme Hersh, lelaki Yahudi yang sejak kecil taat beragama, terdampar. Belitan kemiskinan tak membuatnya “berkhianat” melanggar aturan agama maupun masyarakat, karena Frimme sudah membuat satu kontrak dengan Tuhan: dia akan bertingkah laku lurus seumur hidup, dan Tuhan harus membuatnya bahagia.

Keteguhan Frimme makin kuat ketika suatu hari dia menemukan sesosok bayi perempuan di muka pintu apartemennya. Penuh kasih sayang dia merawat dan membesarkan bayi perempuan itu dengan anggapan inilah salah satu bagian dari kontraknya dengan Tuhan. Sayang, hidup si anak tak panjang. Keyakinan Frimme pun goyah. Lelaki itu murka. Dia menganggap Tuhan telah berkhianat. Hidupnya langsung berubah 180 derajat dan menjadi rentenir yang tak lagi peduli kepada moralitas.

Kisah tentang Frimme tertuang dalam salah satu trilogi A Contract with God, sebuah novel grafis karya Will Eisner (1917- 2005) berjudul serupa, A Contract with God. Karya Eisner bukanlah buku fiksi yang menghadirkan rangkaian kata dari halaman awal sampai akhir, melainkan buku yang penuh dengan gambar. Orang lazim menyebutnya komik. Meski karyanya berupa komik, Eisner seakan menegaskan bahwa Kontrak dengan Tuhan bukan komik sembarangan, melainkan sebuah komik dengan bobot sastra yang serius dan untuk dewasa.

Terbit pertama kali pada 1978 di Amerika Serikat, sejak awal Eisner dengan tegas mencantumkan karyanya sebagai novel grafis di sampul mukanya. “Will Eisner berusaha mengeksplorasi bahasa komik sebagai bahasa gambar dengan kata-kata sebagai bagiannya,” kata pengamat komik Seno Gumira Ajidarma dalam diskusi “Will Eisner dan Novel Grafis” di Bentara Budaya Jakarta, Selasa dua pekan lalu.

Meskipun bukan orang pertama yang menciptakan istilah ini – sebelumnya pernah digunakan Richard Kyle di newsletter bernama Capa-Alpha yang diterbitkan oleh Comic Amateur Press Alliance pada 1964 dan komikus underground George Metzger dan Richard Cohen pada 1976 – Eisner dianggap paling konsisten menghadirkan novel grafis, terutama dari sisi tematik. Tak mengherankan bila dia kemudian dikenal sebagai Bapak Novel Grafis.

Eisner berada di luar arus utama komik komersial yang juga pernah digaulinya, bahwa komik haruslah menghibur. Memang ekspresi wajah dan sikap tubuh tokoh-tokoh hasil rekaan lelaki kelahiran Brooklyn, New York, 6 Maret 1917, itu tetap karikatural. Namun sama sekali bukan untuk mencari efek lucu, melainkan untuk menegaskan segala macam ironi yang melanda si tokoh tersebut. Semuanya digoreskan dengan tinta sephia, cokelat kusam. Toh, walaupun saat pertama kali diterbitkan A Contract with God tidak “meledak”, novel ini berkali-kali telah dicetak ulang dan diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Buku ini dan dua buku lainnya, A Life Force dan Dropsie Avenue:Neighbourhood, sudah bisa dinikmati para penikmat komik di Indonesia sejak akhir Januari lalu tanpa bersusah payah menerjemahkannya. Adalah penerbit Nalar yang membeli hak cipta (copyright) trilogi tersebut dari W.W. Norton & Company, New York, dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia menjadi Kontrak dengan Tuhan. Sebagai satu bagian dari trilogi, Kontrak dengan Tuhan menyajikan empat cerita pendek yang dihubungkan oleh latar belakang kehidupan di rumah susun kelas bawah di lingkungan peranakan Yahudi-Amerika. Selain kisah Frimme Hersh yang berakhir tragis, ada cerita tentang penyanyi jalanan, pemilik rumah susun berwajah sangar tapi rapuh, dan juga cerita tentang seorang remaja di tengah kehidupan rumah susun yang sumpek.

Lain lagi buku kedua, A Life Force, yang diterjemahkan menjadi Daya Hidup. Lewat tokoh Joseph Shtarkah, Eisner tak hanya mengisahkan zaman Depresi pada 1934, tapi juga bangkitnya Naziisme dan politik kiri di wilayah miskin Kota New York itu. Eisner juga membandingkan para penghuni dengan kecoa, makhluk tahan banting yang mampu mempertahankan keberadaannya hingga jutaan tahun.

Jalan Raya Dropsie, terjemahan dari buku ketiga Dropsie Avenue:Neighbourhood, secara visual mengajak pembaca menyusuri jejak lintasan perubahan sosial di sebuah jalan raya sepanjang empat abad. Ia menciptakan panorama kota dan gelombang datang-perginya para pemukim jalan: orang Belanda, Inggris, Irlandia, Yahudi, Afrika-Amerika, dan Puerto Riko yang wajahnya berubah-ubah tapi kehidupan mereka menghadirkan “kisah kehidupan, kematian, dan kebangkitan” yang tak kunjung usai.

Semuanya diramu dalam rangkaian cerita yang melukiskan keriangan, kegembiraan, tragedi, dan drama kehidupan di Jalan Raya Dropsie, Bronx, New York, yang multietnis. Karena itu, berkali-kali pembaca akan menemukan bahasa slank dunia hitam, seperti bahasa mafia Italia atau Yinglish (Yahudi-English). “Beberapa istilah yang khas tidak kami terjemahkan, karena kami tidak menerjemahkan bahasa melainkan kebudayaan,” ujar redaktur Nalar, J.B. Kristanto.

Nunuy Nurhayati
Koran Tempo 27 Februari 2010, hlm C3, Rubrik Seni

Leave a Reply