Oleh M Fadjroel Rachman

Judul Buku: Revolusi Dari Luar (Demokratisasi di Indonesia)
Penulis: R. William Liddle
Penerbit: Penerbit Nalar dan Freedom Institute
Tahun: Cetakan Pertama, Agustus 2005
Halaman: xxii+258

“Intelektual Orde Baru!” Itulah kesimpulan saya ketika membaca artikel R. William Liddle, Merekayasa Demokrasi di Indonesia, yang dimuat Kompas pada 6-7 Februari 1990 (hlm.17). Saya membaca artikel itu di dalam penjara Badan Koordinasi Strategis Nasional Daerah (Bakorstanasda) Jawa Barat, di Jl. Sumatera 37 Bandung, penjelmaan Pelaksana Khusus Daerah (Laksusda). Lembaga ekstra konstitusional ini menjaga stabilitas politik Orde Baru, bertanggungjawab langsung kepada Jenderal Besar (purn.) Soeharto.
baca selanjutnya »

Oleh Veven SP Wardhana

Judul: Katalog Film Indonesia 1926-2005
Penulis: JB Kristanto
Penerbit: Nalar bekerjasama dengan Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta, 2005
Tebal: xxviii + 471 halaman

Cium dan ciuman senantiasa membuhulkan pro dan kontra, baik dalam Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-undang Hukum Pidana mutakhir maupun dalam film Indonesia, baik sebagai adegan dalam film maupun sebagai kata untuk judul film.

Film Izinkan Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2002) dan Buruan Cium Gue (2004) adalah sedikit contoh konkret yang berkait dengan perkara kata. Izinkan Aku Ingin Menciummu Sekali Saja diprotes sebagian masyarakat bahkan sebelum film ini dibuat. Gara-garanya, yang digambarkan ingin mencium seorang gadis adalah seorang pemuda penghuni pesantren. Garin Nugroho, sutradara sekaligus penulis skenarionya, kemudian merombak setting kisah ke Papua, kawasan yang sedang bergolak berkehendak merdeka, sama sekali tak ada gambaran santri dan pesantren, judulnya lalu menjadi Aku Ingin Menciummu Sekali Saja. Sementara judul Buruan Cium Gue ditafsirkan ustaz Aa Abdullah Gymnastiar sebagai “ajakan berzinah” sehingga produsernya, Raam Punjabi, menariknya dari peredaran dan merevisi di sana-sini, dan judulnya bermimikri menjadi Satu Kecupan. baca selanjutnya »

16  July  2005

Bukan Perselingkuhan Biasa

Oleh Rieke Diah Pitaloka

Judul: Selingkuh Dua Pemikir Raksasa: Hannah Arendt-Martin Heidegger.
Judul asli: Hannah Arendt-Martin Heidegger
Penulis: Elzbieta Ettinger
Penerjemah: P Hasudungan Sirait & Rin Hindryati P
Penerbit: Penerbit Nalar, Juli 2005.
Tebal: xxxvii + 173 hlm

PANTALON komprang selutut dan jas Black Forest sederhana khas petani dengan pinggiran lebar dan sebuah kerah semi militer membungkus tubuh seorang lelaki. Ia bertubuh mungil, bermata sendu, rambutnya hitam jelaga dan kulit kecoklatan. Sepintas orang tak akan menduga bahwa ia punya kekuatan luar biasa, apalagi jika bercakap-cakap selalu tampak canggung dan hati-hati. Namun, semua kesan “biasa” dalam dirinya akan menguap saat ia memberikan kuliah di depan kelas. Caranya membangun struktur gagasan yang kompleks, membongkarnya dan menghadapkannya pada para mahasiswa menghasilkan teka-teki yang penuh pesona. Banyak yang terbius, satu orang bunuh diri setelah tiga tahun tak berhasil memecahkan teka-tekinya. Lelaki ini dijuluki “pesulap kecil dari Messkrich”. Dikagumi sekaligus dibenci karena ia memilih berafiliasi pada Nazi. Ia adalah Martin Heidegger, seorang fillsuf besar dunia. baca selanjutnya »