27  April  2008

Mengalah untuk Menang

Oleh Geger Riyanto

Judul: Kartun Benny & Mice: Talk About Hape
Penulis: Benny Rachmadi & Muh.Misrad
ISBN: 9-789792-690132
Uk.& Hlm: 15 x 21cm, vi + 106 hlm.

Dalam kompetisi, kelemahan dapat diterjemahkan sebagai kekuatan. Mereka yang dianggap lemah, tidak dijagokan alias underdog, justru akan bermain tanpa tekanan karena dipandang sebelah mata oleh lawannya maupun penonton.

Toh, politikus atau pengusaha mana yang akan menggubris dua sosok kartunis yang hanya lulusan sebuah institut kesenian sebagai ancaman? Tetapi itulah strategi yang juga mereka gunakan dalam kartun mereka, mengalah untuk menang. Menikam tanpa disadari bahwa mereka sedang menikam.
baca selanjutnya »

17  February  2008

Keliling Jakarta Naik Busway

Oleh Darmaningtyas

“Jakarta punya Busway“. Itulah suatu idiom baru yang mengiringi penyebutan kota Jakarta saat ini.

Busway, yang arti sesungguhnya adalah jalur khusus bus, di Jakarta ini berubah pengertiannya menjadi identitas atau nama moda transportasi umum massal yang melaju di jalur khusus dan dikelola oleh Badan Layanan Umum Transjakarta, yang kemudian disebut Busway Transjakarta. Jadi sebutan busway di sini mempunyai dua makna. Pertama, menyebut “busway” saja, berarti itu sebagai suatu sistem, jalur khusus bus. Kedua, menyebutkan Busway Transjakarta, berarti itu nama perusahaan atau identitas diri moda angkutan massal di Jakarta yang melaju di jalur khusus bus. Dalam pengertian kedua ini maka kata “busway” ditulis dengan mengikuti kaidah EYD, diawali dengan huruf besar dan tidak dicetak miring. Kota-kota lain di dunia menyebut moda transportasi semacam itu adalah BRT (bus rapid transit). baca selanjutnya »

16  September  2007

Meledek Gaya Hidup Snob

Oleh Darminto M Sudarmo

Judul : Kartun Benny & Mice: Jakarta Luar Dalem
Kartunis : Benny Rahmadi dan Muhammad Misrad
Penerbit : Nalar, Jakarta
Cetakan : I, September 2007
Tebal : viii+135 halaman

Jakarta luar dalem? Pilihan ini sungguh menggelitik. Melihat Jakarta dari luar, apa susahnya? Bahasa candanya, nenek-nenek juga bisa. Namun, melihat Jakarta di bagian dalem? Ini sungguh pekerjaan menantang dan tidak sembarang orang mampu melakukannya.

Apalagi cara melihat yang dilakukan oleh dua kartunis Benny dan Misrad tidak sekadar menatap dengan mata melotot dan mulut “manyun”, tetapi seperti layaknya kerja para jurnalis, fotografer, dan sekaligus karikaturis. baca selanjutnya »

Oleh Hendro Wiyanto

Judul: Seni Rupa Modern Indonesia, Esai-esai Pilihan
Penyunting: AminudinTH Siregar dan Enin Supriyanto
Tebal:335 halaman + xx
Penerbit: Penerbit Nalar, Jakarta 2006.

Salah satu soal utama dalam wacana seni rupa moderen Indonesia di masa awal pertumbuhannya adalah seni dan budaya Barat. Dalam kaitannya dengan “identitas” atau “esensialisme” seni rupa kita, soal ini selalu dipandang amat mendesak untuk diajukan, dirumus-rumuskan: apakah wacana seni dan budaya Barat itu perlu diterima ataukah para seniman harus dengan sadar serta apriori terus-menerus menangkisnya? Apakah Barat yang dibayang-bayangkan itu bahkan diam-diam telah ikut membentuk - diakui atau ditolak- pertumbuhan seni rupa moderen Indonesia? Apa akibat dari pengaruh, penerimaan, dan penyerapan terhadap Barat? Sejumlah limpahan dari titik didih soal-soal itu dapat kita jumpai pada kumpulan esai seni rupa yang langka ini.
baca selanjutnya »

13  November  2005

Amerika Di Mata Kita

Oleh Burhanuddin

Judul : Benturan Peradaban: Sikap dan Perilaku Islamis Indonesia terhadap Amerika Serikat
Penulis : Saiful Mujani, Jajat Burhanuddin, et. all.
Penerbit : Freedom Institute, PPIM dan Penerbit Nalar.
Halaman : viii + 196
Ukuran : 14 x 21 cm

Dalam front flap buku The Class of Civilizations and the Remarking of World Order (1996a), termaktub komentar para editor Foreign Affairs yang menyatakan “tidak ada dalam sejarah artikel yang pernah diterbitkan jurnal terkemuka itu yang memantik perdebatan yang panas sejak artikel George Kennan “X” pada tahun 1940-an, kecuali artikel Huntington yang mengulas benturan peradaban.” Sebagai respon atas aneka kritik yang dialamatkan pada artikelnya, Huntington mengeksplorasi lebih dalam melalui buku yang kurang lebih mengambil judul yang sama. baca selanjutnya »