09  November  2008

Identitas Seni Rupa Indonesia

Kemajemukan yang menjadi ciri dasar kebudayaan Indonesia telah melahirkan berbagai jenis dan bentuk ekspresi seni rupa Indonesia lama. Berdasarkan karya yang ditemukan, seni rupa Indonesia dibagi menjadi empat zaman, yaitu kebudayaan prasejarah, purba, madya, dan zaman baru atau modern. Keragaman karya seni rupa dari masa prasejarah, Klasik Hindu, dan Islam, tidak hanya timbul karena pengaruh budaya asing secara tidak merata, tetapi juga karena proses kelahiran dan perkembangannya dipengaruhi lingkungan alamnya.

Jati diri seni rupa Indonesia-Hindu diidentifikasikan sebagai local genius yang mengalami proses akulturasi dan inkulturasi selama berabad-abad. Manifestasi dan keragaman gaya ekspresinya berlandaskan kesinambungan nilai-nilai tradisi seni asli Indonesia yang diperkaya dengan unsur seni dari luar seperti dari Cina dan Campa. baca selanjutnya »

Konsep tata ruang dan tata bangunan kota-kota di Jawa berhubungan erat dengan prinsip filsafat serta religius-budaya yang dipahami masyarakat Jawa. Arsitektur kota juga dikembangkan berdasarkan kosmologi Jawa. Fungsi kontrol dan komunikasi tidak pernah lepas dari struktur tata ruang kota tersebut.

Struktur ruang kota-kota di Jawa memiliki konsep keruangan dan arsitektur yang sama. Dalam perkembangannya kedua konsep tersebut berubah. Perubahan disebut berkesinambungan apabila struktur ruang yang baru bertopang pada pengembangan dasar-dasar nilai budaya yang telah ada. baca selanjutnya »

07  September  2008

Beriman dengan “Santai”

Oleh Ilham Khoiri

Pada mulanya agama muncul sebagai ideologi yang membebaskan manusia dari berbagai persoalan hidup. Namun, setelah lama bergumul dengan sejarah kekuasaan sosial-politik-ekonomi, agama kerap menjelma sebagai rangkaian doktrin kaku, membelenggu, bahkan menakutkan. Bagaimana cara menyerap spirit awal agama yang membebaskan itu?

Cobalah beriman secara santai. Lampauilah formalitas agama, dan reguklah energi keimanan yang mencerahkan. Dengan begitu, nilai-nilai religius itu bakal menawarkan pengalaman pribadi yang menyentuh, terbuka, mengasah akal budi, sekaligus menumbuhkan gairah hidup yang lebih kreatif.

Seruan untuk ”beriman secara santai” semacam itu terasa saat membaca Pergulatan Iman (Nalar, Juli 2008). Buku setebal 216 halaman ini memang tak secara telak mengumbar kiat menemukan dimensi pembebasan. Namun, pengalaman keagamaan berbagai kalangan yang dirangkum buku ini bisa merangsang kita menelusuri ruang-ruang penghayatan yang lebih menggugah. baca selanjutnya »

03  August  2008

Bre Redana: Rekaan Ingatan

Oleh Jean Couteau & Warih Wisatsana

* Urban Sensation, kumpulan 15 cerpen Bre Redana
* Penerbit: Shu Publishing dan Penerbit Nalar, Jakarta, cetakan kedua, Mei 2008.
* Rex, kumpulan 14 cerpen Bre Redana
* Penerbit: Shu Publishing dan Penerbit Nalar, Jakarta, cetakan pertama, Mei 2008.

Seseorang tengah menyaksikan lakon ketoprak Damarwulan. Pada tempat dan saat yang lain, dalam kisah yang berbeda, terlihat pula sang “aku” duduk menyendiri di salah satu meja. Di tuturan yang tak terkait cerita di atas, “aku” yang lain terbangun tiba-tiba di ranjangnya…

Memang, mereka semua adalah tokoh rekaan yang hadir dalam kedua buku kumpulan cerita pendek (cerpen) Bre Redana, baik yang terkini, Rex, maupun yang telah cetak untuk kedua kalinya, Urban Sensation.

Segera terbaca bahwa dalam sebagian besar cerpen tersebut ada sekian tempat “kunci” yang selalu memicu sang tokoh dan tentu juga pembacanya untuk mengalami ulang berbagai peristiwa yang mencekam ingatannya. Tak pelak lagi ada beragam kesangsian yang lahir sebagai akibat berbaurnya kenangan, impian, serta kekinian yang selalu bermuara pada pertanyaan atau pernyataan berupa ketidakyakinan akan ruang dan waktu, bahkan pada cerita yang disampaikan sendiri oleh tokohnya melalui solilokui atau gumaman diri. baca selanjutnya »

Oleh Hikmat Darmawan

Judul: Curhat Tita, a Graphic Diary
Penulis dan penggambar: Tita Larasati
Penerbit: Curhat Anak Bangsa, 2008
Tebal: 87 halaman

Tepatnya, tak ada hidung di gambar wajah “Tita” jika sedang menghadap depan (”frontal face“). Kalau Tita menggambarkan “Tita” dari samping, ada sih hidung itu-mungil, memberi tanda kecil bahwa “Tita” adalah karakter tiga dimensi.

Tita Larasati saat ini adalah seorang dosen ITB. Pada tahun 1995, ia mendapat kesempatan magang selama setahun di Jerman. Jauh dari orangtua dan keluarga, Tita memulai kebiasaan membuat graphic diary.

Ia menggambar apa saja yang ia alami, kapan saja ia sempat, dengan kertas A4 dan gelpen (Pilot G-1 warna hitam), lalu mengirimkan graphic diary itu dengan faksimile ke keluarganya di Indonesia. Kebiasaan itu berlanjut, baik ketika ia balik ke Indonesia maupun ketika ia keluar negeri lagi, untuk melanjutkan studi desain industri ke Belanda, pada tahun 1998.

baca selanjutnya »