24  November  2009

Kisah Secangkir Teh Indonesia

Di alam baka sana, boleh jadi Rudolf Eduard Kerkhoven sangat bangga menyaksikan teh yang pertama kali ditanamnya di kawasan Gambung, Bandung Selatan, Jawa Barat, pada 1872 berkembang pesat.

Tak hanya di Gambung, teh varietas Assamica yang dibawa Kerkhoven dari Sri Lanka itu kini juga tumbuh di hampir seluruh perkebunan teh di Tanah Air, terutama di Jawa dan Sumatera. Langkah Kerkhoven tak hanya itu. Pengusaha perkebunan asal Belanda itu kemudian ikut pula berperan memasarkan teh sebagai komoditas ekspor dan dijual di balai lelang Eropa. Sejak itu, Java tea berkembang menjadi merek dagang dan produk yang banyak diminati oleh bangsa-bangsa di dunia.

Kisah perjuangan Kerkhoven merintis perkebunan teh tersebut sempat dituangkan dalam sebuah buku berjudul Heren van de Thee karya pengarang Belanda, Hella S. Haasse. Adapun buku Real Tea Real Health karya Prawoto Indarto ini tak banyak berkisah tentang sejarah teh di Indonesia. Sejarah teh tersebut telah dipaparkan penulis dalam buku pertamanya,Teh Minuman Bangsa-Bangsa di Dunia, yang diterbitkan pada 2007.

Dalam buku keduanya ini, Indarto—yang juga pengurus Indonesia Teh Lover’s—lebih banyak menguak pelbagai manfaat teh bagi kesehatan. Salah satunya teh sebagai antioksidan yang sangat efektif untuk menetralkan radikal bebas dalam tubuh. Pusat Penelitian Antioksidan di London, Inggris, menemukan kandungan antioksidan dalam 2 cangkir teh setara dengan 7 gelas jus jeruk atau 20 gelas jus apel. Itu sangat dimungkinkan karena dalam teh terkandung katekin, zat bioaktif sebagai antioksidan. baca selanjutnya »

13  September  2009

Ketegaran Melawan Korupsi

Oleh Geger Riyanto

Seorang jaksa jujur dan pekerja keras yang dibungkam adalah sebuah cerita yang terdengar tak asing di telinga orang Indonesia.

Inilah awal cerita Mat Jagung, komik berseri yang memulai pemunculannya pada 2006 di sebuah harian nasional.

Jaksa yang dibunuh di tengah tugasnya itu ternyata juga seorang ayah sejati, seseorang yang menanamkan idealisme untuk senantiasa berjuang demi kebenaran pada darah dagingnya—kerap dengan cara melakoninya sendiri. baca selanjutnya »

Oleh Robert Adhi KSP

TAHUN 2009 ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mengoperasikan tiga koridor baru bus Transjakarta, yaitu Koridor VIII (Lebak Bulus-Harmoni), Koridor IX (Pinang Ranti-Pluit), dan Koridor X (PGC Cililitan-Tanjung Priok).

Tahun 2010 Pemprov DKI akan menambah lima koridor baru bus Transjakarta, yaitu Koridor XI (Ciledug-Blok M), XII (Kalimalang-Blok M), XIII (Depok-Manggarai), XIV (Pulo Gebang-Kampung Melayu), dan XV (Tanjung Priok-Pluit).

Apabila semua koridor bus Transjakarta ini sudah beroperasi, bepergian di Jakarta akan semakin mudah, cepat, murah, dan juga nyaman karena semua bus Transjakarta ber-AC. baca selanjutnya »

21  December  2008

Balada Orang-Orang Kecil

Oleh Dwi Fitria

Buku pertama Nala Arung. Tuangan kegelisahan, sekaligus cuplikan keseharian masyarakat.

Saripin adalah seorang pemuda di sebuah desa. Hidupnya seperti kebanyakan pemuda lainnya, ia hidup di sebuah kampung dimana semua orang begitu mengidolakan artis molek bersuara merdu, Krisdayanti. Sama seperti semua orang di kampungnya, Saripin pun menggilai Krisdayanti.

Suatu hari Saripin bermimpi ia naik ke ranjang bersama Krisdayanti. Saripin tak kuat menahan kisah ini sendiri, ia pun berbagi kisah dengan teman yang benar-benar ia percayai Dudung. Dudung kemudian menyampaikan cerita ini kepada istrinya, yang menceritakannya kepada orang lain, dan seterusnya, sehingga kemudian satu kampung itu mengetahui mimpi Saripin.

Saripin kemudian dibenci dan dijauhi. Ia dianggap orang aneh karena sudah berani-beraninya bermimpi tak senonoh mengenai artis pujaan seluruh masyarakat desa. Apa yang dilakukan Saripin dianggap aib, bahkan oleh kekasihnya Titin, yang kemudian memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka karena masalah ini.

Cerita berjudul Balada Saripin & KD ini adalah satu dari sebelas cerita pendek dalam kumpulan cerpen berjudul sama karya Nala Arung. baca selanjutnya »

30  November  2008

Butet Berpikir, Tuhan Tertawa

Oleh Triyanto Triwikromo

APA saja yang bisa membuat Tuhan tertawa? Saat melihat manusia melucu, mencoreng-coreng wajah dengan riasan badut paling heboh, atau menumpahkan celotehan sarat humor? Jawaban semacam itu mungkin benar, tetapi menurut pendapat novelis Milan Kundera, ternyata Tuhan tertawa karena manusia berpikir.

Dalam pepatah Yahudi, fenomena semacam itu muncul dalam ungkapan, ”manusia berpikir, maka Tuhan tertawa”. Persoalan menjadi lebih tidak keruan ketika ”sang manusia” yang berpikir itu adalah Butet Kartaredjasa yang lebih dikenal sebagai pemain teater yang kerap melakonkan naskah-naskah teater, film, atau monolog lucu.

Tuhan akan tertawa terpingkal-pingkal karena pikiran-pikiran Butet tidak hadir dalam format biasa, linear, atau patuh pada logika-logika umum. Tuhan atau manusia lain sebagai citra Allah bisa jadi sakit perut karena geli mendapatkan formulasi pikiran-pikiran Butet yang tidak bersandar pada hukum-hukum berpikir yang ”baik dan benar”. baca selanjutnya »