01  March  2010

Dari Kampung Bronx ke Wall Street

KOTA New York di awal abad ke-20 adalah kota yang sedang menikmati pertumbuhan puncaknya. Terutama sejak Kanal Erie, yang menghubungkan Great Lakes dengan New York, dibuka pada 1825 dan menjadi jalur utama pelayaran antara laut Atlantik di barat dan kawasan barat daya kota itu. Pada pertengahan 1800-an, kota itu dilintasi barang dan orang yang jauh lebih banyak dibanding semua pelabuhan Amerika dijadikan satu.

Para imigran Yahudi dari Eropa berdatangan, termasuk orang tua Will Eisner. Ayah Eisner berasal dari Wina dan bekerja sebagai pelukis latar panggung teater Yahudi. Ibunya dari Rumania. Eisner lahir pada 6 Maret 1917 di tengah suasana New York yang tengah berkembang.

Keluarganya bermukim di perkampungan kumuh Bronx. Semasa kecil Eisner menjajakan surat kabar untuk membantu keuangan keluarganya di kawasan Wall Street. Dari situlah dia dapat membaca komik di semua koran yang terbit di New York. baca selanjutnya »

01  March  2010

Eisner dan Kekotaan Otentik

Oleh Hikmat Darmawan, pengamat komik

TENTU saja Will Eisner sangat berpengaruh dalam hal penjelajahan bentuk dan bahasa komik. Serial stripnya, The Spirit, yang terbit tiap pekan pada 1940-1952, adalah sebuah “kitab” pelajaran bahasa komik yang mumpuni. Khususnya periode sesudah Eisner pulang dari wajib militer, The Spirit dipenuhi oleh begitu banyak desain panel, halaman, huruf sebagai bagian dari narasi, hingga aneka efek visual untuk bunyi, serta angle gambar yang sangat filmis. Ciri penjelajahan format begini terus mematang dalam karya-karya Eisner sampai enam dekade kemudian.

Namun A Contract with God (Kontrak dengan Tuhan, 1978) menegaskan sebuah pengaruh lain. Di usia pensiunnya, Eisner justru terobsesi untuk menuturkan “kisah-kisah dewasa” dalam bentuk komik. Obsesi ini membuat A Contract with God dan karya-karya sesudahnya, yang ia populerkan dengan sebutan “novel grafis”, dipenuhi lekuk-liku kebimbangan ilahiah, patah hati, kekerasan, seks, dan pelik-pelik hidup di sebuah kota yang keras. Dan, memberi rasa tajam pada duka gembira manusia-manusia kota fiktif itu, Eisner menggambarkan sebuah dunia Yahudi yang gamblang dan detail.

Tak pelak, Eisner menimba pengalaman hidupnya sendiri. Ini ia akui jelas dalam banyak wawancara. Tapi, silakan menyelami, misalnya, Trilogi Kontrak dengan Tuhan. Pembaca tak akan bisa lepas dari kesan bahwa kisah fiktif ini sungguh otentik, basah kuyup oleh emosi nyata penulis/penggambarnya. Para penghuni Jalan Dropsie 55, Bronx, yang jadi lokasi tetap Trilogi Kontrak dengan Tuhan (Kontrak dengan Tuhan, Daya Hidup, dan Jalan Raya Dropsie: Pemukiman), adalah “hantu” nyata dalam hidup Eisner. baca selanjutnya »

27  February  2010

Will Eisner: Kontrak dengan Tuhan

Trilogi A Contract with God karya Will Eisner diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Karya sastra dalam wujud komik.

Tentang Will Eisner dan Trilogi Kontrak dengan Tuhan di Koran Tempo

Tentang Will Eisner dan Trilogi Kontrak dengan Tuhan di Koran Tempo

Bronx di awal 1930-an adalah sebuah permukiman kumuh tempat tinggal penduduk New York kelas bawah. Sebuah dunia kelam para imigran Eropa yang datang ke Amerika Serikat mempertaruhkan nasibnya. Di sanalah, di satu apartemen sempit dan kumuh, Frimme Hersh, lelaki Yahudi yang sejak kecil taat beragama, terdampar. Belitan kemiskinan tak membuatnya “berkhianat” melanggar aturan agama maupun masyarakat, karena Frimme sudah membuat satu kontrak dengan Tuhan: dia akan bertingkah laku lurus seumur hidup, dan Tuhan harus membuatnya bahagia. baca selanjutnya »

21  February  2010

Cita-cita “Sastra” dalam Komik

Oleh Seno Gumira Ajidarma

Apabila terjemahan ke bahasa Indonesia dari A Contract with God, Life Force, dan Dropsie Avenue ini sekarang beredar dan menyeruak di antara timbunan manga sebagai Trilogi Kontrak dengan Tuhan, konteks sosial historisnya selayaknyalah diketahui.

Ketika terbit pertama kali pada 1978 di Amerika Serikat, Will Eisner (1917-2005) sengaja membedakan diri dari sembarang komik, yakni menerakan istilah novel grafis di sampulnya.

Memang benar istilah itu telah ditancap Richard Kyle di newsletter bernama Capa-Alpha yang diterbitkan Comic Amateur Press Alliance pada 1964, juga oleh komikus underground, George Metzger dan Richard Cohen untuk bundel komik serial mereka, keduanya pada 1976, tetapi baru melalui Will Eisner pengertian novel grafis itu terwujudkan secara konsekuen. Apa itu? baca selanjutnya »

19  February  2010

Will Eisner & Novel Grafis

tinjauan ringkas

Bicara tentang Will Eisner adalah bicara tentang novel grafis—yang harus dibaca sebagai perjuangan komik untuk meningkatkan martabatnya. Justru karena itu, urusan yang menghubungkan Eisner dengan novel grafis tersebut mesti dibereskan dulu: bahwa dia bukan orang pertama yang menggunakan istilah “novel grafis”, seperti yang sering disampaikan dengan menunjuk A Contract with God yang terbit pada 1978.

Sejauh merujuk data tertulis, istilah itu tertera pertama kalinya paling tidak pada tiga karya terpisah: (1) pada halaman judul (splash) dalam komik serial Beyond Time and Again (1967-1972) karya George Metzger, ketika dibukukan pada 1976; (2) tahun itu pula, tercatat Richard Cohen menerakan istilah yang sama pada sampul komik gubahannya, Bloodstar; sementara (3) dalam majalah Graphic Story yang terbit pertama kali pada musim gugur 1967, redaktur Bill Spicer menyebutkan bahwa Richard Kyle sebagai penerbit Beyond Time and Again telah menggunakan istilah “graphic novel” maupun “graphic story”, jauh lebih awal di tahun 1963-64. baca selanjutnya »