02  March  2011

Motor Adalah Siasat

Oleh Hikmat Darmawan

Jumlah motor di Jakarta hampir sama dengan jumlah penduduk ibukota semrawut kita ini: lebih dari delapan juta buah (penduduk Jakarta saat malam, artinya, yang sungguh-sungguh tidur dan berumah di Jakarta: 9.588.158 jiwa, menurut Sensus 2010). Begitulah catatan Beng Rahardian dalam komik pertama antologi unik ini.

Apa arti statistik itu?

Artinya, Jakarta sangat tak layak huni, sebetulnya. Trend pembangunan kota mutakhir sebetulnya menitikberatkan penilaian kelayakhunian kota dari hal-hal yang diabaikan Jakarta, seperti: tekanan pada transportasi umum (khususnya kereta), sepeda, dan pedestrian (jalur pejalan kaki) serta ruang-ruang publik yang luas. Lebih jelasnya, trend kota mutakhir dunia adalah mengurangi kendaraan bermotor pribadi, khususnya mobil pribadi. baca selanjutnya »

20  August  2010

Sempalan Kehanyutan

Oleh Seno Gumira Ajidarma

Gekiga Hyoryu (2008), karya manga Yoshihiro Tatsumi, 76, telah mendapat penghargaan Will Eisner Comic Industry Award 2010 melalui versi bahasa Inggrisnya, A Drifting Life, dalam dua kategori, yakni Karya Terbaik Berdasarkan Kenyataan dan Edisi Amerika Serikat Terbaik dari Materi International. Penghargaan itu diumumkan Juli lalu, tetapi komik itu telah beredar di Indonesia sebulan sebelumnya dengan judul Hanyut (terbit dalam empat jilid). Dengan kategori “berdasarkan kenyataan” itu, taksyak lagi, Hanyut menjadi salah satu jendela untuk memahami dunia industri manga di Jepang.

Sebagai komik autobiografis, Tatsumi meriwayatkan bagaimana dirinya yang dalam komik itu bernama mirip, Hiroshi Katsumi, sejak awal memang seperti terhanyut dalam sejarah pertumbuhan manga, yang terikat sepenuhnya dengan sejarah Jepang itu sendiri. Seperti diketahui, Yoshihiro Tatsumi, bersama antara lain Takao Saito dan Masaaki Sato, adalah pelopor lahirnya manga alternatif yang mereka sebut gekiga atau drama-gambar, yang mewarnai perkomikan Jepang sejak publikasi pertamanya tahun 1956. baca selanjutnya »

11  August  2010

Mengintip Sejarah Industri Manga

Oleh Eka Kurniawan

Membaca novel grafis (atau dalam istilah penulisnya gekiga) Hanyut karya Yoshihiro Tatsumi, serasa membaca tiga biografi sekaligus: biografi sang mangaka, yang di buku disamarkan bernama Hiroshi Katsumi; biografi industri manga; dan tentu saja kalau mau berlebihan (sebenarnya tidak berlebihan dalam konteks buku ini) biografi Jepang pasca-perang.

Kalau kita melihat perjalanan hidup Hiroshi berjuang untuk meraih impiannya menjadi mangaka (pembuat komik), pada dasarnya kita bisa melihat perjuangan umum para seniman. Terutama sebagai penulis (dan jujur saja, sebelum ingin jadi penulis saya sempat tergila-gila ingin menjadi komikus), saya bisa merasakan tahapan-tahapan karirnya yang berat.

Sebagai pemula, dia memulainya dengan menggambar manga empat kotak. Atau di sini lebih dikenal dengan komik strip. Komik lucu yang tamat dalam empat panel. Saya ingat zaman dulu, di Indonesia juga subur komik-komik seperti ini. Bahkan sampai menciptakan perkumpulan-perkumpulan. Yang saya ingat ada “Karoeng” (Kartunis Bandung), maklum waktu kecil saya bacaannya koran dan majalah Jawa Barat. baca selanjutnya »

01  March  2010

Ini Bukan Komik, Katanya

Tiga dasawarsa setelah diterbitkan pertama kali di Amerika Serikat, cerita bergambar A Contract with God and Other Tenement Stories karya Will Eisner diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Diambil dari versi yang diterbitkan oleh W.W. Norton & Co. pada 2005 sebagai satu paket trilogi (bersama dua judul lain, A Life Force dan Dropsie Avenue), peluncuran edisi ini dirayakan dengan sebuah diskusi di Bentara Budaya Jakarta pekan lalu. Mengapa cerita bergambar yang dilabeli novel grafis ini begitu istimewa?

***

SATU sudut kumuh Bronx di Kota New York itu tampil dalam garis-garis hitam tegas dan tebal, dengan arsir atau blok di sana-sini. Gambar-gambar yang dibangun dengan bahan-bahan itu-berupa gedung, orang, aneka peralatan, suasana-tampak suram. Dan cerita yang diantarkannya memang bukan dongeng yang berakhir-bahagia-selamanya: inilah kisah tentang Frimme Hersh, seorang imigran Yahudi saleh yang memprotes Tuhan karena kematian putri angkatnya; dia lalu sukses menjadi juragan properti, tak pernah peduli pada moralitas, tapi meninggal penuh penyesalan.

Kisah berjudul A Contract with God (diterjemahkan menjadi Kontrak dengan Tuhan) itu dibuka, dengan sudut penglihatan kamera jarak jauh, ketika seseorang sedang berjalan di tengah guyuran hujan lebat, di antara genangan air. Mengenakan topi lebar, kepalanya menunduk sepanjang jalan. Langkahnya menimbulkan bunyi kecipak. Dialah Hersh, yang hari itu baru pulang dari pemakaman putrinya. baca selanjutnya »

01  March  2010

Menjajal Pasar Sempit

DI negeri kelahirannya, Amerika Serikat, novel grafis karya Will Eisner terbilang laku, walau tak pernah dalam jumlah sensasional. Yang jelas, cetak ulang terus dilakukan sejak pertama kali terbit. Maklum, jenis komik dewasa berbobot sastra serius sudah lazim di sana. Pada 2004 saja, misalnya, penjualan novel grafis mencapai US$ 207 juta, melonjak hampir 300 persen dibanding lima tahun sebelumnya.

Di sini Nalar, perusahaan yang menerbitkan terjemahan Trilogi Kontrak dengan Tuhan–tiga karya puncak Eisner–tak berharap banyak. “Selain tak terlalu terkenal, pasar komik dewasa di Indonesia sangat sempit,” ujar J.B. Kristanto, redaktur Nalar.

Menurut Kristanto, Nalar tertarik menerbitkan karena trilogi itu merupakan mahakarya Eisner. Karya ini diharapkan dapat menambah referensi bagi pencinta komik di sini, yang selama ini lebih banyak dihadapkan dengan komik untuk anak-anak. baca selanjutnya »