24  May  2008

The Comic Critics: Benny & Mice

Oleh Wening Gitomartoyo

Duo kartunis Benny & Mice merangkul pembaca yang lebih luas ketika comic strip mereka muncul di koran Kompas setiap hari Minggu. Berjejer dengan deretan kartun berkelas lainnya, mereka menawarkan cara pandang terhadap Jakarta, dan yang paling jitu: para penghuni Jakarta dengan tingkahnya yang membuat geli. Hebatnya, ini semua disodorkan dari kacamata kedua tokoh ‘fiktif’ ini—Benny & Mice—sosok yang luwes bergerak di seluruh kelas masyarakat Jakarta, dan menyasar berbagai laku warga ibukota yang ingin tampil keren dan up to date, walau lebih sering gagal. Misalnya waktu banyak orang lalu lalang dengan perangkat flashdisk mungil bergelantungan di leher mereka, Benny & Mice tidak boleh kalah. Flashdisk 2 GB tidak cukup, mereka menyodok semua orang dengan menggantungkan hard disk dengan kapasitas masing-masing 40 GB dan 80 GB bertali di lehernya. Alhasil, karya mereka tidak berusaha tampil sebagai catatan sosial yang nyinyir dan penuh petuah. Kedua kawan yang telah bekerja sama sejak kuliah di Institut Kesenian Jakarta ini ‘hanya’ menyodorkan cermin besar ke hadapan Jakarta.
Benny Rachmadi dan Muh. ‘Mice’ Misrad sama-sama lulus dari IKJ tahun 1993. Nama mereka mulai dilirik oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) sejak membuat ilustrasi buku keluaran KPG, Matinya Ilmu Ekonomi” di tahun 1997. Dari situ, mereka ditawari untuk membuat buku kartun tentang Jakarta, yang kemudian bernama Lagak Jakarta. Dibagi berdasarkan beberapa tema besar seperti perilaku, transportasi, dan profesi, seri ini semakin bertaring ketika mengajukan tema krisis ekonomi. Hingga kini, total terdapat enam buah seri, dan masih berlanjut dengan Kartun Benny & Mice, Jakarta Luar Dalem (2007), 100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta (2008), dan Benny & Mice: Talk About Hape (2008). Ini juga dibarengi dengan kehadiran mereka setiap hari Minggu di suratkabar Kompas mulai tahun 2003. Hingga kini, buku mereka laris hingga ribuan kopi (Benny & Mice, Jakarta Luar Dalem terjual lebih dari 10 ribu kopi), dan nama mereka semakin diperhatikan.

Kalian sedang laris-larisnya.. Apa rasanya jadi Benny & Mice sekarang? Ada yang berubah?
Mice: Bahagia. Senang karena karya kami disukai orang. Jadi ternyata karya kami ini berarti, nggak sia-sia.. Dalem ya? [tertawa]
B (Benny): Kalau julukan artis, itu sih ledekan dari temen-temen dan saudara. Itu karena muka kami ada di media massa aja.. Mungkin untuk orang awam, tampil di media itu keren ya..
M (Mice): Kalau artis itu apa?
B: Seniman! Nah itu dia, sebutan artis jadi kayak figur orang terkenal, penyanyi, pemain film. Selebriti. Ada juga yang bilang kami itu selebriti.
M: (tertawa)
B: Kalau soal berubah, enggak ya…
M: Lelah aja ya.. Hahaha.
B: Ada perasaan sih, kalau kami berdua jalan, lalu terpikir, ‘Kira-kira ada yang ngenalin kami nggak?’. Sekarang agak-agak GR…
M: (tertawa)
B: Norak emang sebetulnya.. Tapi nggak pernah kejadian kok. Kita aja yang GR. Tapi sempet sih, di sebuah toko buku, ada yang menghampiri kami , dan orang-orang lain itu melihat kami sambil senyum-senyum, padahal kami nggak kenal mereka.
M: Herannya, kalau janjian sama orang yang belum pernah ketemu, dari jarak beberapa meter aja, mereka udah bisa ngenalin mana yang Benny, dan mana yang Mice.

Aktif sejak masih di kampus ya kabarnya?

M: Ya, sejak tahun 1989-1990, kami menjadi redaksi Koran Dinding. Isinya diganti setiap dua hari. Kalau lagi iseng, subuh-subuh kami pasang, siangnya sudah diganti lagi. Kurang lebih selama empat tahun kami di Koran Dinding. Dulu kami lebih ngocol, semaunya. Tapi orang-orang pada suka. Awalnya, senior yang bikin Koran Dinding, dan tulisannya lebih ilmiah, misalnya sejarah seni rupa. Habis dari kuliah, baca tulisan kayak gitu, tambah mumet. Ya udah, kami rombak. Jadi, tulisannya 20%, gambarnya 80%. Pikir kami, di sekolah gambar, ya ngegambar. Kami bikin deh, gambar ngaco, tulisan juga ngacoNggak ada pesan apa-apa di situ. Tapi memang sudah mengamati perilaku orang. Misalnya ada mahasiswa yang pakai anting nggak karuan, sampai pakai gembok, pendeknya sok nyeni, tapi nggak ada karyanya. Jadi ada profil gambar dia gede, kami ngata-ngatain dia, tapi herannya, orang-orang pada seneng.. Dan nggak ada satupun [teman] yang marah. Mungkin mereka dapat hal yang baru. Bahasa juga dicampur, ada Indonesia baku, ada Inggris yang nggak karuan. Ternyata koran kami ditunggu-tunggu terus. Isinya juga kadang nyerempet-nyerempet porno, sampai kami disebut Si Jorok 1 dan Si Jorok 2. Dulu tidak pakai nama Benny & Mice, tapi saya pakai ikon terong, dan Benny pakai ikon semangka. Konotasinya begitu. Lama-lama pun lebih serius ngerjain koran dibandingkan tugas kuliah, hahaha… Intinya, kalau orang seneng, kami juga seneng. Sampai-sampai ada dosen yang ngasih kami ruangan kosong untuk bekerja. Jadi saya dan Benny praktis tinggal di kampus, sampai punya kunci kamar mandi, langganan Kompas, dan sebagainya. Itu awalnya, di mana setiap hari kami mengamati orang.
B: Dulu jail-jailan kampus lah.. Dulu di IKJ kan banyak yang gondrong, pake sendal jepit, nggak mandi, tapi karyanya nggak ada. Tapi temen-temen juga paling ngomong, “Ah sialan lu..”

Proses mengamati orang ini memang sesuatu yang organik ya? Bukan dirancang khusus, sengaja datang ke suatu tempat, misalnya?
M: Kami nggak pernah begitu. Di kampus aja, kami bisa ngomongin banyak banget. Apalagi kalau Jakarta. Makanya kami sepakat ngambil tema Jakarta, karena kayaknya nggak akan habis deh
B: Nggak sengaja aja. Kami bukan pengamat… Misalnya kami lihat satu orang pakai cardigan, satu lagi juga pakai… Nah, ini dia nih.
M: Kepekaan akan sesuatu yang lucu aja kali ya..
B: Sebenernya kita aja yang jail. Orang nggak ada apa-apa, rese amat gitu ya…
M: (tertawa)
B: Kalau kami lihat banyak yang berpakaian serupa, misalnya, sudah jadi jamak, nah itu yang jadi suatu kesimpulan.
M: Oh, ternyata ada komunitas yang seperti ini.. Nggak mungkin kita ngangkat satu orang aja, yang misalnya berpakaian lain. Kalau iya, berarti orang itu emang aneh, hahaha…
B: Kami bukan melakukan survey. Ah, repot amat, survey.. Kapan gambarnya?

Kalau ada sebutan pengamat sosial untuk kalian?
B: Nggaklah..
M: Itu efek ya..
B: Ya, ada yang ngomong kayak gitu. Pengamat sosial, pakar sosiologi, apalah.. Malah jadi terbebani kalau gitu.
M: Kita malah seneng kalau ada yang komentar, “Wah, ancur nih orang…”
B: Dulu pernah ada yang nanya ke saya, “Mas Benny kuliah di Sosiologi ya?” Waktu saya bilang kuliah di IKJ, jurusan Seni Rupa, malah dia nggak percaya.

Kenapa memilih Jakarta sebagai tema utama?
B: Pertama, karena kami tinggal di Jakarta. Jakarta menarik, seperti sebuah Indonesia kecil. Kumpulan berbagai budaya, bisa budaya daerah, atau budaya luar…
M: Mau nyari apa, ada aja.. Mau yang cemen atau yang mewah, ada. Nah kita di tengah-tengahlah..

Ada kritik atau protes yang pernah mampir ke Benny & Mice?
M: Sampai sekarang, belum pernah. Di Kompas, kami juga sebenernya mengkritik banyak orang. Tapi alhamdulillah nggak pernah ada yang protes. Bisa jadi karena kami pakai karakter kami sendiri. Jadinya kami terlihat meledek diri sendiri. Untuk Kompas Minggu, saya inget banget, yang ngajak itu mas Kris [JB Kristanto] dan mas Efix [Efix Mulyadi], dan waktu itu isinya sudah berat-berat semua, ada mas Dwi Koen, Konpopilan, dan lain-lain. Kami coba imbangi dengan ngasih yang ringan.

Seseorang lebih mudah menertawakan orang lain ya...
M: Iya.. Kenapa tokoh Benny & Mice keluar, karena kami pikir, kami pasti jail. Biar orang nggak tersinggung, tokohnya kami berdua aja. Biarpun tolol, ancur, atau dikritik, orang pasti ngeliatnya kami aja.
B: Dari pada ngerjain orang lain, mending kami ngerjain kami sendiri. Kalau tolol, ya tolol sendiri aja..

Ada perbedaan khusus, dari tadinya membahas orang lain, kini sering membahas ‘diri sendiri’?
B: Dikomentari orang itu termasuk efek aja.. Efek atau karma ya? Untungnya sampai sekarang masih positif. Kami selama ini tahu reaksi pembaca dari blog-blog mereka. Jadi yang kami lihat, mereka ketawa-ketawa setelah baca buku kami. Kalau ada yang menyentil dia, malah ketawa, “Wah, gue banget tuh..”
M: Orang jadi ngaca.. Misalnya waktu itu kami pernah nulis tentang kawat gigi, lalu ketemu orang yang pakai kawat gigi, dan dia bilang sambil ketawa-ketawa: ‘Wah, ngeledekin gue nih….”
B: Dan kami jawab, “Emang elu doang yang pake kawat?”
M: (tertawa) Tapi orangnya nggak marah.. Kebanyakan begitu sih, mereka kesentil, tapi juga ketawa.
B: Atau kami kan pernah membahas tentang cardigan, dan waktu kami diwawancara di Kompas, wartawannya pakai cardigan. “Gue sengaja nih pakai, buat ketemu elo…”, katanya. Artinya, kami bukan membuka aib orang ya sebenernya. Hal-hal sederhana itu bisa dibikin lucu.
M: Potret. Potret yang kami bikin hiperbola. Tergantung cara mengemasnya, dan juga ending-nya, biar orang ketawa.
B: Mungkin karena tokohnya adalah kami berdua, mereka nggak merasa diserang langsung.

Benny & Mice selalu akurat menangkap kenyataan dari berbagai kelas masyarakat.
M: Enaknya di posisi tengah ya gitu, kami bisa ngelihat ke atas sekaligus ke bawah.
B: Banyak [orang] yang di bawah mau ke atas, nggak nyampe-nyampe
M: Sementara orang yang di atas nggak bakal mau ke bawah. Untungnya kita di tengah-tengah, itu sih..
B: Dan memang yang paling seru itu yang kelas menengah.
M: Tengah itu paling asyik.
B: Bisa ke bawah, bisa ke atas. Kadang makan di kafe, kadang di warteg. Ya, kita-lah ya.. [memandang ke Mice]

Bagaimana proses pembuatan kartun?
B: Rembukan dulu… Bikin daftar, misalnya dalam satu buku ada 100 halaman, kita tulis setiap halaman isinya apa saja. Tapi kadang yang udah ada di daftar apa, jadinya keluar lain lagi…
M: Kalau keluar lalu bertemu sesuatu, lalu apa yang sudah ada di daftar dicoret, diganti..

Berembuk juga untuk hal dialog?
B: Iya..
M: Misalnya, lebih enak kata yang akan dipakai ‘sialan’ atau ‘sompret’ nih..

Pengerjaan memang dibagi dua ya..
B: Karena gaya gambar kami sudah sama, ya ganti-gantian aja, nggak masalah. Kayak yang di Kompas Minggu, misalnya minggu depan Mice, lalu minggu depannya lagi saya.

Hasil penjualan buku sejauh ini?
B: Menggembirakan..
M: Ukuran sukses untuk komik itu sebenarnya masih kecil. Bukan ratusan ribu.. Banyak pengamat komik bilang dari dulu [penjualan] komik itu maksimal 3000 eksemplar. Itu di Indonesia. Selama ini jumlahnya ya segitu, dalam jangka waktu paling cepat 6 bulan.
B: Ada juga yang meneliti soal penjualan ini, untuk ukuran komik Indonesia, buku kami tingkatnya bagus.
M: Bisa 10.000 [kopi] dalam waktu satu bulan. Dulu kami cukup pesimis. Bisa seribu aja, udah seneng banget..
B: Dengan harga yang berkisar dari Rp 30.000 sampai dengan Rp 50.000, itu bisa dibilang mahal. Tapi ternyata ya [penjualannya] bagus. Nggak tau apa karena kerinduan orang akan komik lokal, memang seneng sama kita, atau beli untuk punya-punyaan aja

Ada pengalaman paling berkesan sejauh ini?
B: Yang menyenangkan buat kita ya pas kami tahu pembaca kami itu senang. Kalau orang senang, kami senang. Juga bahwa pembaca kami berasal dari semua kalangan. Anak SD bisa menangkap juga…
M: Itu yang nggak kita sangka-sangka..

Ada apa dengan Dian Sastrowardoyo, sehingga cukup sering dimunculkan di kartun?
B: Nah itu urusan dia…
M: [tertawa]
B: Yah kalau di komik, kita mewakili semua lelaki aja…
M: Itu intinya. Sebenernya sih biar rame aja… Tapi mungkin sampai di pembaca, jadi lain artinya.

Proyek untuk masa depan?
M: Untuk buku-buku selanjutnya, ada Lagak Jakarta, lalu Jakarta Atas Bawah untuk menyambung Jakarta Luar Dalem, untuk keluar bulan Juli. Mungkin setelahnya, Jakarta Kanan Kiri
B: Kalau untuk Lagak Jakarta, yaitu “Gila Bola”, mumpung mau ada Piala Euro. Ada banyak [bahan], tapi masih untuk dibahas lagi.

Ada inspirasi dari kartunis lain?
B: Lat, itu pasti.
M: [Matt] Groening, caranya menggambar gigi, dan cara bercerita sehari-hari. Lat juga [membahas hal] sehari-hari. Kita senang [hal] yang sehari-hari, makanya cocok dengan kartunis-kartunis itu.

Lebih sulit menertawakan diri sendiri atau keadaan Jakarta?
B: Dua-duanya mudah. Kami menertawakan Jakarta dengan medium diri kami sendiri. Ribet ya.. Makanya gue males kalo bahasa ribet, apalagi kalo dibilang [sebagai] pengamat.
M: [Membaca kartun kami], banyak orang ketawa ngakak, tapi lebih banyak yang ketawa miris. Banyak yang bilang kami ini satir, ironis, kocak, ancur, gila.
B: Pokoknya dari bahasa yang sangat baku sampai sebaliknya. Komentar orang juga macam-macam. Miris kalo kami ngelihat kelas bawah jadi kelas atas, misalnya maksain beli HP. HP untuk dia buat apa sih, uang buat telepon gak ada, beli pulsa juga susah. Toh yang nelpon dia nggak ada juga.
M: Kami ngeliatnya juga kesel campur miris. Sok-sokan pake bluetooth, sementara juga di rumah aja.
B: Banyak yang ngikutin teknologi tapi nggak tahu makenya. [Dalam hal] mode, pakai baju yang nggak pantes juga banyak.

Apa topik Jakarta yang paling panas sekarang?
M: Cabai harganya Rp 35 ribu. Saya lihat sendiri, ada running text di televisi, “Kalla berkata Indonesia sudah tidak krisis”, sementara gambar yang ditayangkan orang-orang mengantri untuk beli minyak. Kadang bisa [sampai] segitunya, saya nggak habis pikir. Makanya Benny suka nyeletuk, “Gimana nih negara elo…”
B: Itu kalo tema beratnya ya, hajat hidup orang banyak.
M: Itu makanya jarang kami angkat, karena kami tahu itu nggak bakal beres.
B: Itu urusan pemerintah.
M: Makanya kami bahas hal-hal lain.

Apakah memberlakukan sensor untuk diri sendiri?
B: Ada, paling jangan porno atau SARA.
M: Kami sudah muak banget soal politik, makanya jarang [membahas].
B: [Komik] yang di [bagian] atas [Kompas] juga udah ngebahas, makanya kita nggak.
M: Seperti waktu itu, waktu Pak Harto meninggal, kita yakin yang lain pasti ngomongin peristiwa itu.
B: Dan benar. Semua bener-bener ngomongin itu, kita malah membahas tentang masuk TV.

Sampai langganan banyak koran untuk tetap up to date, tidak?
B: Kita ikuti saja, juga berita di TV. Dan terutama dari pergaulan sih.
M: Itu yang paling banyak. Lingkungan sekitar. Itu bisa berbicara untuk banyak orang, mungkin karena kita punya corong.
B: Mungkin karena kita punya media, kebanyakan di blog juga [berpendapat] begitu, “Bener tuh, gue juga pernah ngeliat orang kayak gitu…”
M: Kita [jadi] corongnya saja. Tinggal mengamini. Seperti sinetron-sinetron di Indosiar, banyak yang artisnya nggak ngetop, dan sok-sok India.
B: Kita perhatiin aja, misalnya adegan nyanyi-nyanyi di taman. Daunnya apa tapi kok ada mawar di atasnya. Ternyata bunga-bunga itu memang sengaja ditaruh di situ.
M: Nah, kami angkat itu di Kompas Minggu. Banyak banget yang ngomong: “Wah, setujuuuuu….” [tertawa]
B: Tapi sinetronnya juga nggak berubah sih.. Jadi sebenernya kami nggak [berpe]ngaruh-ngaruh banget…

Sebutkan Jakarta dalam satu kata.
B: Ruwet. Udah nggak ada enaknya sebenernya. Macet, banjir, jalan bolong. Beli mobil mahal-mahal buat ngebut di mana? Saya pernah lihat soalnya, ada mobil Ferrari di Jakarta, dan saya berpikir, orang ini mau ngebut di mana, jalan tol juga nggak bisa [untuk] ngebut. Beli mobil mahal kan buat mejeng. Tapi buka kaca dikit, ntar dipalak. Mau ngebut, nggak bisa karena macet. Begitu bisa ngebut, karena malam hari, udah nggak ada yang lihat… Semua kalangan ada lucunya sih.
M: Misplaced ya.. Seperti Cherokee di Jakarta. Itu kan buat nanjak-nanjak..
B: Mungkin di Jakarta sekarang memang harus pake mobil offroad, karena jalan-jalan bolong.

Komentar diri sendiri untuk pencapaian hingga sejauh ini?
M: Kalau ada yang bilang seneng dengan karya kami. Mentoknya kami di situ.
B: Kalau berproses karya, terus berproses. Selama masih ada yang menampung, selama Kompas dan penerbit masih mau menerbitkan kami.
M: Ujung-ujungnya ya tetap, yaitu pembaca.
B: Kalau pembaca senang, itu yang menempel di kami.

Rolling Stone, Mei 2008 (edisi khusus)

3 Responses to “The Comic Critics: Benny & Mice”

Jauhar syahraya muhammad:

Bagaimana perkembangan komik benny dan mice sejauh ini?

reyza ahmad nursyawal:

buat buku baru donk saya ada ide cerita nya…
kalo mau,,,

Rosiane:

komentarom ma byt riesenie? tak sa o nkajee pokusim. :-) tato uloha ma rozculovala uz dva dni, takze sa asi musim pochvalit s tym, na co som prisla. odpoved a) je nie. to bolo celkom lahke: bielych policiek je na sachovnici 40, kym ciernych len 38 a kedze kazda kocka domina musi pokryvat jedno biele a jedno cierne policko, je zrejme, ze pokrytie nemoze ani teoreticky existovat, lebo dve biele policka nam ostavaju ‘visiet vo vzduchu’.prist na odpoved po b), alebo aspon nieco, co povazujem za odpoved, mi dalo viac prace.:-) ale hovorim, ze v tomto pripade tiez nie je mozne sachovnicu pokryt: ‘pozdlzne’ tromina mozu byt dvoch typov: bud pokryvaju policka ‘biele-cierne-biele’(BCB) alebo ‘cierne-biele-cierne’(CBC). ak tych prvych bude v pokryti x a tych druhych y, tak sa z podmienok, ze vsetkych bielych policok je 40 a vsetkych ciernych 38, da zistit, ze ak tromina maju sachovnicu pokryvat, musi ich byt 14 typu BCB a 12 typu CBC. no a teraz klucova vec: ak si to clovek dobre rozmysli (dufam, ze som si to rozmyslela naozaj dobre :-) ), cez vsetky policka trominami vyplenenej sachovnice by sa malo dat po trominach(t.j. iba horizontalnymi, resp. vertikalnymi pohybmi) poprechadzat. prechadzka po tromine vyzera tak, ze z jedneho jeho konca prejdeme na druhy a tam pokracujeme na susedne policko, ktore je krajnym polickom dalsieho tromina. navyse, zda sa mi, ze by mala existovat cesta, na ktorej sa tromina budu striedat: BCB(zaciname v lavom hornom rohu), CBC, BCB,… to vsak pri pocte 14 BCB a len 12 CBC tromin nie je mozne dosiahnut. viem, ze som tu pouzila vela nematematickych ‘zda sa mi’, ale vie to niekto zdovodnit sofistikovanejsie, ako len ‘it’s easy to see’ ( a tentokrat doslova)? o odpoved c) sa uz v tejto nocnej dobe nepokusam, aj ked by som si tipla, ze to bude zas ‘nie’.

Leave a Reply