27  April  2008

Teman tapi Mual

DUA bulan belakangan ini, kesibukan Benny Rachmadi, 38 tahun, dan Muhammad Misrad, 37 tahun, seperti mengikuti harga minyak di pasar dunia: melesat tinggi. Setelah meluncurkan 100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta pada Februari, sebulan kemudian beredar Benny & Mice: Talk About Hape. Belum hilang tawa pembaca akibat pelbagai sindiran konyol di kedua buku komik tersebut, eh, keduanya sudah “tebar pesona” di tayangan Kick Andy di Metro TV pekan lalu.

Selesai? Tunggu dulu! Pameran kartun Asia ke-11 yang digelar The Japan Foundation Jakarta yang bertema “Budaya Anak Muda Asia” tak lupa menampilkan mereka berdua sebagai pengisi workshop pembuatan kartun pada 23-24 April. Bahkan pada pameran yang berlangsung hingga 19 Mei itu, Benny menjadi satu-satunya kartunis Indonesia dari 10 kartunis Asia berbakat seperti Xia Dachuan (Cina), Jayanto Banerjee (India), atau Suu Kohma (Japan), yang terpilih untuk memamerkan karya-karya mereka.

Jika Anda masih tetap merasa belum ngeh dengan keduanya, tak jadi masalah, sebab dua tokoh culun yang mereka ciptakan sejak 2003 telah secara rutin menyambangi pembaca Kompas edisi Minggu: Benny & Mice. “Awalnya komik ini sering disangka saduran dari komik luar negeri,” Benny separuh mengeluh kepada Tempo. Maklum, nama Benny & Mice terasa segurih keju ketimbang selezat singkong, sehingga banyak yang melafalkan Mice dengan lafal Inggris (“mais”, bukan “mi-ce” seperti pada “ronce”). “Padahal itu nama panggilan saya sejak kecil,” tutur Mirsad, eh, Mice, sambil tersenyum canggung.

Jadi, begitulah. Ada Benny & Mice, duo kartunis yang sudah bersahabat sejak 20 tahun silam tatkala bersama-sama menangguk ilmu di Jurusan Desain Grafis, Institut Kesenian Jakarta, dan ada juga “Benny & Mice”, dua cowok usil-sok tahu-pantang mengalah, yang rajin menggedor urat lucu pembaca. Namun, kolaborasi profesional keduanya sebetulnya dimulai lewat Lagak Jakarta: Tren dan Perilaku yang terbit pada 1997.

Senin dua pekan silam, Benny yang suka berkebun dan Mice yang doyan mendengar musik The Beatles untuk mengail ide, mau tak mau, harus menunjukkan urat lucu mereka di depan wartawan Tempo, Akmal Nasery Basral, Yophiandi, dan fotografer Adri Irianto yang beberapa kali, sungguh mati, terpingkal-pingkal mendengarkan paparan mereka, di kantor sebuah penerbitan di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan.

Apa pentingnya komik tentang “hape” (telepon seluler)?
Benny: “Hape” ini fenomenal sekali dalam 10 tahun terakhir. Tadinya barang yang masih mewah banget di tahun 1995, belakangan menjadi barang wajib bagi semua orang. Dari tukang air, tukang ojek, bahkan tukang minyak. Kita bisa order dagangan mereka lewat “hape”. Kami coba memotret pergeseran pola hidup ini. Ada yang gonta-ganti “hape”, atau (acara) idola-idolaan lewat SMS.
Mice: Intinya, kekonyolan orang Indonesia saat pegang “hape”.
Benny: Misalnya ada yang beli “hape” seharga Rp 5-6 juta, padahal cuma dipakai buat nelpon dan SMS. Mahal tapi nggak efisien. Koneksi ke Internet juga nggak dipasang. Kalau cuma buat SMS, pakai yang Rp 500 ribuan juga bisa.

Apa ada cara khusus untuk menangkap fenomena itu? Nongkrong di mal misalnya?
Benny: Bergaul aja. Nggak diniatkan khusus. Misalnya kami sedang di warung, terus lihat ada orang “aneh”, ya kami obrolkan.
Mice: Kami nggak biasa menghabiskan waktu untuk observasi.

Tapi karya-karya itu memang diarahkan sebagai kritik sosial?
Benny: Mungkin lebih tepat sebagai bentuk curhat. Misalnya kami lihat tren fesyen. Prinsip Benny & Mice itu, mereka pantang kalah satu sama lain. Pokoknya, selalu mau “lebih” meski ternyata salah. Itu kan sifat orang di Jakarta. Pokoknya, tak boleh kalah dari orang lain. Contohnya, ada yang sedang berbusana Arab, si Mice nggak mau kalah, langsung pakai pakaian Aladdin.
Mice: Mungkin bagi orang yang berbusana Arab itu biasa saja pakai kafiyeh di siang bolong, tapi buat Benny & Mice itu aneh. Jadilah Mice bertingkah “lebih” dengan bergaya Aladdin.

Lalu tentang komik 100 Tokoh?
Benny: Jakarta ini penuh dengan berbagai macam suku bangsa, profesi, sifat manusia. Keluar dari kompleks rumah saya di Depok, sudah bertemu macam-macam orang, misalnya yang terjebak masa lalu, atau meniru Rhoma Irama. Banyak sekali. Ada juga yang menyorot penguasa atau anggota Dewan, tapi ini agak rumit. Slank menyentil begitu saja (lewat lagu Gosip Jalanan), sudah langsung ribut.

Benny & Mice kelihatannya lebih senang menyorot masyarakat kelas menengah?
Mice: Kami memang lebih memotret mereka, karena kami juga ada di tengah agak ke bawah. Mau ngomongin yang kelas atas juga nggak kebayang, nggak tahu realitasnya (tertawa). Nanti malah dianggap membohongi pembaca.
Benny: Atau malah dianggap berkhayal.

Memangnya mereka bagaimana?
Benny: Mereka masih bisa beli barang-barang mahal.
Mice: Norak-noraknya masih kelihatan. Paling seru mengamati orang menengah ya. Kadang kasihan, kadang nyebelin. Kalau orang bawah yang kami potret, kasihan. Kalau soal politik kami nggak peduli. Ketika Pak Harto meninggal dan (media-media) yang lain berlomba mengungkap hal itu, kami malah bikin yang lain.

Apa latar belakang munculnya Benny & Mice?
Benny: Saat itu Kompas ingin menambah komik strip untuk edisi Minggu yang sudah banyak diisi isu politik, hal-hal berat. Mereka minta yang ringan. Mungkin setelah melihat Lagak Jakarta. Nah, untuk bikin komik perlu ada tokohnya. Daripada repot-repot (menciptakan tokoh lagi), tokohnya kami sajalah.
Mice: Ibaratnya untuk mengimbangi yang sudah ada. Nyentil terus ternyata nggak ada efeknya, nggak didengarkan juga (tertawa). Selain itu, ada pertimbangan kalau tokohnya dari nama kami sendiri, maka tidak akan ada yang tersinggung. Kalau tokohnya dibuat mengacu ke orang lain, malah bisa berabe. Jadi, lebih baik membuat karakter yang mentertawakan diri sendiri.

Ada perbedaan karakter yang disengaja antara Benny dan Mice?
Benny: Awalnya nggak. Sama-sama tolol saja.
Mice: Tapi komentar pembaca sudah memisahkan tuh. Benny yang sok tahu, “jaim”, Mice yang lugu, bijaksana. Tapi kadang-kadang terbalik juga.

Itu cerminan karakter Anda sendiri?

Benny: Nggak, mengalir saja. Lu yang begini, gue yang begitu.
Mice: Makanya nggak ada profilnya. Pekerjaan dan usianya juga nggak jelas. Ini kami pikir supaya bisa ke mana-mana. Yang penting sifatnya saja.

Ada yang bilang pengaruh Kampung Boy karya Lat dalam Benny & Mice begitu terasa. Menurut Anda?
Benny: Ya, memang ada influence, terutama Lagak Jakarta yang pertama itu Lat banget. Dari cerita dan gambar terlihat jelas, apalagi budaya kita dan Malaysia yang diamati Lat banyak miripnya. Tetapi sekarang evolusi kami sudah jauh.
Mice: Lat masih manis dalam menggambarkan parodi, sementara kami ancur (tertawa). Tetapi yang mempengaruhi kami bukan cuma Lat, juga dari Beavis and The Butthead di MTV, atau Matt Groening dengan The Simpsons juga.

Bagaimana kalian melihat perkembangan komik yang berciri sosial seperti Benny & Mice di Indonesia?
Benny: Konon, menurut orang-orang, baru kami yang (menggarap) begini, soal keseharian maksudnya.

Apa karena SDM kartunis kita yang minim?
Benny: Wah, kalau soal SDM malah jago-jago. Kalah kami dengan banyak kartunis sekarang.
Mice: Mungkin soalnya lebih pada pesan yang ingin disampaikan ke masyarakat. Saat menggambar banyak yang malah asyik sendiri. Kalau soal skill, kami kalah jauhlah.

Atau, karena citra komik yang sebelum ini kurang mendapat apresiasi layak?
Benny: Bisa juga. Komik-komik dulu, misalnya yang cerita silat, biasanya agak porno, sedikit-sedikit perkosaan. Mungkin masih banyak yang terpatok pada citra yang dulu.

Seberapa besar peran penerbit, media, dalam perkembangan komik?
Benny: Ya, itu ya, soal pesan sosial. Kalau bikin gambar surealis atau yang paling oke, kalau komunikasinya kurang, nggak nyampe ke masyarakat. Sebab, kan, penerbit juga mempertimbangkan itu. Sebelum sampai ke masyarakat, kan, dilihat penerbit dulu. Tapi kalau perubahan, harus begini-begitu, di (pihak) kami sih nggak banyak, ya. Paling secara editing, bahasa, titik-koma, kalau ceritanya kepanjangan.

Dulu komik Cemplon karya Umar Nur Zain di sebuah koran pernah dibuat sinetron dengan Kris Dayanti sebagai pemerannya. Kalau Benny & Mice diangkat ke layar lebar, siapa yang pantas jadi pemerannya?
Benny: Pernah ada pihak yang tertarik membuat film seperti itu. Pemeran yang cocok, menurut saya, yang fisiknya seperti Benny & Mice. Bisa pemain baru. Orang biasalah.
Mice: Pernah ada yang usul Vincent & Desta (pemain bas dan drum grup Club Eighties), tapi nggak tahu bagaimana perkembangannya. Yang pasti, menurut saya, jangan yang ganteng (tertawa).

Setelah 20 tahun bersahabat, apa pernah cekcok hebat atau bahkan sampai marahan, misalnya, karena ada yang lalai mengerjakan tugas?
Benny: Nggak pernah. Saling percaya saja. Kalau (salah satu dari kami) sedang banyak kerjaan pribadi, ya yang lain yang mengerjakan Benny & Mice. Honornya ya buat yang bikin saat itu.

Jadi, sudah benar-benar saling memahami pikiran satu sama lain?
Benny: Kadang-kadang malah mual. Ketemunya dengan dia lagi, dia lagi.
Mice: Hahaha, betul itu.

Boleh tahu pendapatan kartunis-selebritas seperti kalian?
Benny: Kalau standar orang Jakarta sekarang mobilnya tiga, kami empat. Itu cukup menjelaskan nggak?
Mice: Hahaha.

Apa obsesi yang masih belum tercapai dalam menggarap Benny & Mice?
Benny: Menurut saya, pola ceritanya. Cara membagi adegan masih perlu diperbaiki.
Mice: Kami mau membuat Benny & Mice dalam satu cerita utuh. Sekarang ini masih mirip kartun esai.

Satu kata untuk merumuskan sifat Benny & Mice?
Mice: Nggak bisa satu kata, minimal tiga: gila, ancur, norak.
Benny: Dan yang baca Benny & Mice lebih ancur, lebih gila, lebih norak.

Koran Tempo, 27 April 2008

Kata kunci: , , ,

3 Responses to “Teman tapi Mual”

william:

kedua komikus yang penuh dengan ide gila dan sangat keren skalii hasilnya!di setiap karya seniman selalu ada filosofi karyanya,mereka membuat sesuatu yang ringan dan sederhana tetapi bner2 sangat baik sekali utk smua…mnghibur dgan karya yang sangat mnghibur…TOP DEHH!

Chapdelaine:

Heheh. Where’s the meaning?

Ernest Eiesland:

Huh? Where’s the point of something like this? Check out http://www.nabtarin.ir/story.php?title=phone-porn.

Leave a Reply