03 November 2008
Televisiana: Televisi Indonesia dalam Berlarik Memoir
Penulis: RM SoenartoISBN: 978-979-16063-2-5
Penerbit: Fakultas Film dan Televisi, Intitut Kesenian Jakarta
Tahun Terbit: 2008
Ukuran: 15 x 21 cm, xii + 163 hlm
Harga: Rp. 35000
Buku ni merupakan sepilihan tulisan yang memuat memoar atau pengalaman masa lampau oleh seseorang yang berkecimpung dalam media siaran televisi Indonesia sejak awal berdirinya. Penulis memiliki berbaris memoar mengenai peristiwa yang ada dalam sejarah negeri ini, tapi untuk buku ini dipilih yang bersangkutan dengan dunia pertelevisian Indonesia, terutama TVRI dan televisi swasta. Dunia yang digelutinya lebih dari 34 tahun. Termasuk di antaranya yang kocak:
Dulu tabung kamera harus diganti setip 100 kam. Kalau tidak diganti, kamera terebut bakal menimbulkan sticking gambar… alias menjadi seperti “hantu”, lantaran gambar berubah menjadi shadow atawa bayang-bayang… untuk meraibkan shadow itu, kamera harus digoyang-goyang… Hopo tumon? Absurd?
kpi ijinkan Pemda provinsi boleh dirikan televisi swasta nasional
Sebuah arogansi besar di bidang media pers yang di lakukan gubernur papua, pasalnya untuk pertama kalinya pemda provinsi mendirikan sebuah stasiun televise swasta milik pemerintah, sebuah fenomena baru di bidang industri pertelevisian di Indonesia, tv milik pemerintah provinsi papua yang di beri nama tvmp ini di bangun dengan menelan biaya 20milyard rupiah di ambil dari dana APBD papua tahun 2007, dan rencananya tiap tahunnya akan di supsidi 20 milyard dari dana APBD
Entah mengapa kpi dan kominfo bisa memberikan ijin kepada pemerintah provinsi papua untuk membengun televise swasta dari dana apbd, padahal dalam undang undang penyiaran telah dengan tegas mengatakan bahwa pemerintah hanya boleh membiayai dan membesarkan tv public yaitu tvri, dan dalam undang undang pendirian televise swasta kepemilikannya hanya dari investasi suasta, namun nyatanya gubernur papua mendistribusikan dana apbd untuk membangun tv swasta di papua yang jangkauan siaranya mengunakan satelit atau setara dengan tv nasional, herannya di papua, tvri papua sudah sejak lama eksis di papua dan memiliki produksi acara yang cukup baik, lantas kenapa bukan tvri yang di-danai dan di besarkan, malah membangun Televise swasta milik pemda papua, jelas ini sebuah pemborosan, karna dengan sendirinya pemerintah provinsi papua akan mengeluarkan lagi tambahan biaya sewa chanell freqensi di satelit, biaya ini sebuah pemborosan besar.
Dapat di bayangkan jika komisi penyiaran Indonesia mengabaikan undang undang pendirian media tv swasta dan secara frontal didirikan juga oleh seluruh gubernur di Indonesia, pastilah rakyat Indonesia akan senang melihat banyaknya tv swasta,,,
Tapi di dalam undang undang pendirian tv swasta kan gak boleh milik pememrintah..hehehee…
lantas dimanakah posisi tvri yang kita banggakan…..
Dan dan itu berarti pertelevisian swasta akan menemui massa kelam karna ada tv swasta milik pemerintah akan dengan bebes di bangun di semua provinsi dari dana apbd…
Dan bagaimana pertangung jawaban dana yang begitu besar yang seharunya di gunakan untuk kemakmuran rakyat……
Lebih menyakitkan lagi nasip nedia cetak local yang harus menerima kenyataan pos dananya telah digunakan untuk televise swasta milik pemerintah?.hik..hik……
Tujuannya bangun tv swasta milik pemerintah apa sihh… dana rakyat jangan di jadikan sarana politik dong…
Semoga…