20  August  2010

Sempalan Kehanyutan

Oleh Seno Gumira Ajidarma

Gekiga Hyoryu (2008), karya manga Yoshihiro Tatsumi, 76, telah mendapat penghargaan Will Eisner Comic Industry Award 2010 melalui versi bahasa Inggrisnya, A Drifting Life, dalam dua kategori, yakni Karya Terbaik Berdasarkan Kenyataan dan Edisi Amerika Serikat Terbaik dari Materi International. Penghargaan itu diumumkan Juli lalu, tetapi komik itu telah beredar di Indonesia sebulan sebelumnya dengan judul Hanyut (terbit dalam empat jilid). Dengan kategori “berdasarkan kenyataan” itu, taksyak lagi, Hanyut menjadi salah satu jendela untuk memahami dunia industri manga di Jepang.

Sebagai komik autobiografis, Tatsumi meriwayatkan bagaimana dirinya yang dalam komik itu bernama mirip, Hiroshi Katsumi, sejak awal memang seperti terhanyut dalam sejarah pertumbuhan manga, yang terikat sepenuhnya dengan sejarah Jepang itu sendiri. Seperti diketahui, Yoshihiro Tatsumi, bersama antara lain Takao Saito dan Masaaki Sato, adalah pelopor lahirnya manga alternatif yang mereka sebut gekiga atau drama-gambar, yang mewarnai perkomikan Jepang sejak publikasi pertamanya tahun 1956.

METAKOMIK. Dibaca dari kanan ke kiri, Hanyut adalah manga dewasa tentang gekiga atau gambar-drama, yang melawan arus utama manga di Jepang ketika masih dikuasai “dewa manga” Osamu Tezuka.

Gekiga berformat buku atau juga majalah, tetapi dicetak eksklusif untuk taman bacaan atau kashibon’ya, yang jumlahnya mencapai 30.000 di seluruh Jepang. Dengan merebaknya shonen manga, yakni majalah khusus komik, peluang taman bacaan akhirnya tertutup sama sekali, dan itulah akhir riwayat gekiga ketika memasuki tahun 1960-an. Meskipun begitu, sebagai gerakan artistik, justru gekiga dimanfaatkan Osamu Tezuka yang dominasinya sedang dilawan Tatsumi dan kelompoknya, sebagai “dewa manga” yang menguasai dunia kanak-kanak Jepang.

Dasar maestro, alih-alih terpengaruh gaya realistik dan latar kegelap-gelapannya Tatsumi, justru pendekatan Tezuka dalam Phoenix (1970) dan Adolf (1980) kembali mempengaruhi para pelopor gekiga seperti Tatsumi itu sendiri dalam teknik bercerita. Dalam Hanyut digambarkan, betapa sebagai mangaka kanak-kanak, Hiroshi memang sebetulnya sangat memuja Tezuka.

Dihanyutkan Sejarah
Membaca Hanyut berarti membaca dua hal, yang pertama adalah membaca perjuangan Hiroshi yang mengasyikkan sebagai komik; yang kedua adalah membaca sejarah manga dalam konteks sejarah Jepang setelah Perang Dunia II, menjadikan Hanyut ini sebagai metakomik, yakni komik tentang komik.

Sejarah digerakkan oleh relasi kuasa, dengan berbagai faktor determinan yang perimbangan serta pergulatannya membentuk berbagai momentum sosial historis tertentu. Di Jepang, tempat komik yang disebut manga itu merupakan tuan rumah di negeri sendiri, lahirnya manga untuk dewasa harus melalui gerakan alternatif dengan manifesto, karena yang dominan di pasar adalah manga kanak-kanak, yang pada gilirannya membentuk stigma manga sebagai bacaan anak kecil. Namun memang terdapat suatu kondisi sosial historis yang spesifik, bahwa generasi manga yang ditumbuhkan pada tahun ’60-’70an, membutuhkan “manga dewasa” untuk mengisi kekosongan setelah generasi ini dewasa.

Perkembangan manga digambarkan dengan memikat dari kacamata Hiroshi: bagaimana ia mula-mula mengirimkan manga empat kotak, yang taklebih adalah kartun humor, berpartisipasi dalam trend antologi, dan terlibat serta terombang-ambingkan persaingan antarpenerbit, yang dengan caranya masing-masing berusaha menguasai, mendanai, dan saling membajak para mangawan muda demi produk manga mereka. Segera tampak bahwa konstruksi artistik yang terbentuk dalam sejarah manga, merupakan bagian juga dari persaingan antarpenerbit, yang memang hanya akan melihat sisi bisnis dari segenap produk artistik itu.

Gerakan gekiga lahir dari gagasan para mangawan, untuk menggambar sebanyak dan sepanjang mereka inginkan, dengan gaya yang baru, lepas dari tuntutan penerbit yang membelenggu mereka. Meski begitu, sepanjang membaca Hanyut, ternyata pembaca tidak akan melihat seniman cengeng yang meminta suaka istimewa demi cita-cita artistiknya. Para mangawan dalam Hanyut ini tampak sebagai seniman amat berbakat, tetapi yang bekerja siang dan malam melebihi buruh, karena tenggat ketat pesanan berbagai penerbit.

Kata “pesanan” tidak menjadi tabu dalam pekerjaan seorang seniman, begitu pula keberadaan tenggat ketat, diterima sebagai kondisi positif industri manga yang berkembang. Dalam dunia semacam itulah cita-cita artistik diperjuangkan secara realistik, antara lain mengerjakan gekiga sebagai alternatif dan manga arus utama secara simultan. Ketika memudarnya taman bacaan menutup peluang gekiga, para mangawan tetap bekerja memenuhi pesanan manga. Para mangawan ini taklebih dan takkurang tampak sebagai kaum profesional.

Bawah Tanah dan Kejutan
Dalam terjemahan berbahasa Indonesia, Hanyut dipertahankan formatnya dalam pembacaan dari kanan ke kiri, sehingga terjamin gambar-gambar tampil sesuai kehendak pembuatnya, berbeda dengan manga yang seringkali “disesuaikan” di Indonesia melalui pembalikan format dari kiri ke kanan. Jelas manga untuk dewasa ini berisi persoalan maupun adegan, yang terandaikan akan disaksikan hanya oleh orang dewasa.

Jika membandingkan antara karya Tatsumi sebagai pelopor manga, yang dalam Hanyut menjadi karya Hiroshi, dengan cara Tatsumi bercerita dalam Hanyut ini sendiri, akan terlihat perbedaan, sebesar perbedaan antara pendekatan autobiografis yang bersifat menjelaskan, dibanding imajinasi bebas yang sangat eksploratif, dari seorang mangawan muda berambisi artistik tinggi. Hanyut dibuat setelah segenap gelombang berlalu, tetapi jejak gekiga takterhapuskan, ketika adopsi sang dewa Tezuka terhadap gekiga bagaikan pembenaran terhadap segenap pengembangan artistik dunia manga, yang membuat segala jenis dan aliran merebak, pada zaman keemasan manga antara 1970-1980.

Gairah dan letupan industri manga belum berhenti, dan setiap kali terdapat gerakan bawah tanah yang menyempal dengan kejutan tersendiri, saat itulah istilah gekiga kembali sebagai suatu definisi. Arus utama di pasar manga memang menghanyutkan, tetapi dalam kehanyutan terdapat penyempalan.

2 Responses to “Sempalan Kehanyutan”

Novel Grafis: Hanyut 1– 4:

[...] Baca ulasan Eka Kurniawan Seno Gumira Ajidarma [...]

PREDIKSI NOMOR TOGEL JITU:

ASSALAMUALAIKUM SALAM SAYA TKI DI MALAYSIA
Maaf sebelumnya jika lewat Tempat ini saya menceritakan kisah hidup saya niat saya hanyalah semata ingin berbagi tapi semua tergantung Anda percaya atau tidak yg jelasnya inilah kenyataannya…
Syukur alhamdulillah kini saya bisa menghirup udara segar di indonesia karnah sudah sekian lama saya ingin pulang ke kampung halaman namun tak bisa karna ada hutang yang harus saya bayar di majikan yaitu 370 juta untuk uang indo namun,saya tidak pusing lagi sebab kemaring saya di berikan Info oleh seseorang yang tidak saya kenal,katanya kalau mengalami kesulitan Ekonomi,Terlilit hutang silahkan minta bantuan sama MBAH NUGROHO di Nomor Telpon (-0823-1920-8865-) di jamin bantuan beliau 100% …
BANTUAN DARI MBAH NUGROHO
1.PESUGIHAN
2.TOGEL
3. DANAH GHAIB
4.PENGGANDAAN UANG
5.UANG BALIK
6.PEMIKAT
7.PENGLARIS BISNIS (Jualan,Tokoh,warung)
8.PERLANJAR DALAM BERBAGAI HAL
Jadi saya beranikan diri menghubungi beliau dan menyampaikan semua masalah saya dan alhamdulillah saya bisa di bantu,kini semua hutang saya sama majikan di Saudi semua bisa terlunasi dan punya modal untuk pulang kampung,,,,
Jadi buat yang pengen seperti saya silahkan Hubungi MBAH NUGROHO di nomor (-0823-1920-8865-)

Leave a Reply