Pram Melawan!: Dari Perkara Sex, Lekra, PKI, sampai Proses Kreatif
Penulis: P Hasudungan Sirait, Rin Hindrayati P, RheinhardtISBN: 978-979-26-9036-1
Tahun Terbit: 2011
Ukuran: xl + 502 hlm.; 15 cm x 23 cm
Harga: Rp.
Diskon: (10%) Rp. 121500
Belum ada buku yang mengupas siapa Pramoedya Ananta Toer sebenarnya secara lengkap dan tuntas. Buku ini menjawabnya dan dari mulut Pram sendiri. Novelis terbesar yang pernah dimiliki Indonesia ini menjawab semua pertanyaan yang diajukan pada dirinya. Beberapa kutipannya:
Saya punya pacar Belanda, di Amsterdam. Oh, itu yang membebaskan saya dari perasaan minder… saya tidur bersama dia. Hilang itu perasaan minder.”
Harto juga kurang apa? Dengan kekuasannya semua intelektual praktis merangkak di bawah kakinya … Artinya melahirkan moral umum yang hipokrit.”
…ironis! Yang membiayai pembangunan mesjid, gereja, vihara dan sebagainya itu biasanya para koruptor, supaya impas dosanya. Itu budaya, bukan politik.
Belum ada yang sebesar Soekarno dari sekian presiden.
Clubpenguin…
[...]listed below are a handful of references to internet pages that we connect to for the fact we believe there’re well worth browsing[...]…
bikin kuisnya lagi dong…hehe
Nalar yang baik,
Apakah ada resensi dari buku ini di koran semacam Kompas atau koran-koran lainnya
Berikut ini kami muat kembali “Surat Pembaca” bantahan dari pihak keluarga Joesoef Isak yang dimuat Tempo Online, 07 Juni 2010 terhadap tuduhan miring terhadap Joesoef Isak oleh pihak tertentu dalam artikel Tempo 26 April 2010 “Memilih Berpisah”.
Tulisan Menyesatkan
Kami gusar terhadap tulisan Tempo edisi 26 April-2Mei 2010 berjudul “Memilih Berpisah” berkaitan dengan Hasta Mitra. Dalam tulisan itu diterangkan soal almarhum Joesoef Isak yang memotong honorarium almarhum Pramoedya Ananta Toer sebagai berikut, “… Lambat-laun Pramoedya merasa ada yang janggal karena kerap kali honorariumnya dipotong tanpa alasan.” Masih dalam satu nada, Tempo menyebutkan, Joesoef juga telah melakukan pembajakan hasil karya Pramoedya. “… dengan cara menggelembungkan jumlah cetakan buku yang dilakukan atas dasar perintah cetak Joesoef itu membuatnya (Pramoedya) kecewa.”
Keberatan kami adalah Tempo telah tidak proporsional mengulas hal yang belum jelas juntrungannya, tanpa mengkonfirmasi sumber independen dan melakukan penyelidikan menyeluruh. Kami menganggap Tempo menyebarkan fitnah mengenai almarhum Joesoef Isak. Informasi yang kami kumpulkan dari berbagai pihak, termasuk para mantan anggota organisasi seniman sebelum 1965-terutama dari mereka yang dalam kategori nonsahabat atau kenal almarhum secara biasa-biasa saja-bertolak belakang dengan apa yang ditulis Tempo. Informasi tersebut mencakup bukan hanya berkaitan dengan kisruh pembajakan, melainkan juga royalti penulis di dalam dan luar negeri pada awal 1980-an ketika Hasta Mitra mulai berdiri hingga pasca-Orde Baru, awal 2000-an.
Menurut kami, apa yang disebut perselisihan di tubuh Hasta Mitra adalah hal jamak yang terjadi dalam sebuah perusahaan. Andai memang perselisihan di antara ketiga pendiri Hasta Mitra-Pramoedya, Joesoef, dan Hasjim Rachman-ada, kami ingin mengingatkan bahwa mereka bertiga sudah bekerja dengan baik menjawab tantangan pada zamannya.
Subowo
Desantara
Lutfi Yusuf
Hei Bung Subowo. Kayaknya anda salah menempatkan surat pembaca ini ke sini. Mestinya anda ke Tempo. Dan satu hal lagi, anda kok kayak kebakaran jenggot, mencoba membersihkan nama kemana-mana seolah-olah ini benar