18  January  2011

Nyanyian Rindu

Penulis: Sugiyatno DM
ISBN: 978-602-89-6609-2
Penerbit: Kosa Kata Kita
Tahun Terbit: 2011
Ukuran: 13,5 x 20,5 cm; xii + 160 hlm
Harga: Rp. 40000
Diskon: (10%) Rp. 36000

Penyair kumpulan puisi ini senang mencatat pengalaman batinnya dalam setiap perjalanan. Yang menarik, sebagai guru fisika, puisi-puisinya yaang kadang bersifat relijius, dihadirkan melalui frasa dan metafora orisinal dan unik.

3 Responses to “Nyanyian Rindu”

Moh. Ghufron Cholid:

MEMAKNAI PUNCAK RINDU SUGIYATNO DM DALAM BUKU NYANYIAN RINDU
oleh Moh. Ghufron Cholid pada 14 Juni 2011 jam 20:23

Dalam membaca sebuah buku apa saja, biasanya tiap orang ingin mengetahui mengapa seorang pengarang/ penulis memberi judul pada bukunya. Saya pun mengalami hal yang sama, ketika menerima kado persahabatan dari Penyair Kebumen Sugiyatno DM, pribadi bersahaja yang menjalani aktivitas kesehariannya sebagai kepala Rumah Tangga dan Kepala Sekolah yang ada di daerahnya.

Saya pun segera membuka lembar demi lembar guna menemukan alasan penyair memberi judul ‘Nyanyian Rindu’
Ketekunan selalu membuahkan hasil yang manis, dan saya pun menemukan jawaban atas rasa keingin tahuan saya sebagai pembaca. Dalam buku ini, tepatnya di halaman viii, Sugiyatno DM memaparkan alasan tentang dipilihnya ‘Nyanyian Rindu’ memjadi judul buku;
“Buku ini sengaja aku beri judul “Nyanyian Rindu” yang memuat puisi-puisiku yang tersisa di waktu lalu untuk kulanjutkan kembali di sini dengan penuh cinta, kusampaikan kepada sahabatku, rekanku, anak didikku, orang tuaku, dan kepada siapa saja yang selalu merindu, dan muara rinduku ada di langit Tuhanku.”

Hal demikian membuat saya tersadar, betapa pentingnya sejarah untuk diabadikan. Hal ini senada dengan surat al-Qalam ayat 1-2 yang berbunyi Nun/Wal Qalami wama yasturun yang artinya Nun/Demi pena yang menjadi garis.

Hal ini menandakan bahwa disengaja atau tidak Sugiyatno DM telah melaksanakan tradisi baik agama yakni mengadikan sejarah dalam karya yang ditulisnya. Tradisi yang sangat dianjurkan oleh agama Islam selain membaca yakni menulis. Karena dengan menulis segala rasa, semua peristiwa maka waktu yang telah berlalu masih bisa dibaca kembali dalam tulisan bernama puisi. Karena memang, saat ini Sugiyatno memilih puisi sebagai jalan alternatif untuk mengabadikan sejarah.

Akhirnya ketertarikan saya untuk mendalami buku ini bertambah, saya pun ingin mengetahui bagaimana seorang penyair menempatkan posisi diri sebagai seorang hamba dihadapan Tuhannya.

Saya pun perlahan menelaah segi kereligiusan Sugiyatno DM lewat puisi-puisi yang telah ditulisnya. Paling tidak perkenalan saya dengan penyair walau tanpa pernah bertatap muka bisa diketahui lewat tulisan yang telah diabadikan.

Sugiyatno DM dalam puisi-puisi relijinya tak terlalu memanjakan metafor. Sugiyatno DM menyampaikan secara sederhana dan secara jujur, hal ini bisa dimaklumi jika kita melihat posisinya sebagai seorang manusia yang memiliki jiwa sosial. Seorang manusia yang tidak egois dalam membangun tembok keregiusannya agar bisa dipahami oleh orang lain yakni kita sebagai pembaca.

Penyampaian gaya tutur seperti ini tentunya akan menuai dua pendapat yakni mendapat pujian dari kalangan awam/kalangan yang hanya ingin mengetahui kekuatan makna pesannya saja, namun berbeda halnya dengan orang yang telah banyak makan garam dalam dunia sastra khususnya puisi. Namun Sugiyatno DM dengan segala kesederhanaan dan kebersahajaannya tak pernah mempersoalkan hal itu, puisi-puisi yang ada di dalam buku ini lebih diniatkan sebagai salah satu bagian dalam menghargai sejarah, terlepas baik atau buruknya suatu karya Sugiyatno menyerahkan sepenuhnya kepada kita sebagai pembaca.

Penyampaian sederhana dan lugas dalam puisi-puisi reliji yang ditulisnya bisa kita temukan semisal dalam ‘Cahaya Aurora-Mu’ sugiyatno mengakui betapa manusia hanya diberi sedikit ilmu oleh Tuhannya. Hal ini secara tegas diutarakan dalam bait terakhirnya yang berbunyi, Tuhan/telah kau beri aku pengetahuan/untuk mencoba mengerti sedikit/dari keagungan-Mu (halaman 27). Atau bisa juga kita temukan dalam Dalam puisi UNTUKMU misalnya di bait terakhir, Tuhan/air mata ini/berpadu dengan doaku/untuk-Mu (halaman 29), puisi ini menandakan bahwa hanya kepada Tuhan manusia wajib meminta segala hajat yang diinginkan. Dalam KUADUKAN GELISAHKU, tepatnya di bait terakhir Tuhan/kedamaian dan ketenanganlah/yang kuingini dan/Engkau Maha Tahu/atas segala keinginanku (halaman 30).

Paling tidak tiga puisi reliji di atas memiliki nilai filosofi yang hendak disampaikan oleh penyairnya, baik kepada dirinya sendiri maupun kepada kita sebagai pembaca yakni betapa pun hebatnya manusia, tetaplah sangat kerdil dihadapan Tuhannya. Bisa juga dimaknai bahwa Tuhan Maha Mengetahui, Maha Pemberi dan Maha dari segala maha yang ada.

Dengan demikian manusia bisa lebih bebas berekspresi, lebih bebas berkarya tanpa harus takut pada oknum. Karena pada hakekatnya tiap manusia memiliki rasa berani dan rasa takut.

Maka tidaklah berlebihan jika dalam puisi-puisi yang ada di dalam buku ‘Nyanyian Rindu’ yang ditulis oleh Sugiyatno DM terkesan natural tanpa tekanan. Sederhana namun menyentak seluruh jiwa.

Pernyataan terakhir Sugiyatno DM dalam memaparkan alasan pemilihan judul ‘Nyanyian Rindu’ yakni muara rinduku ada di langit Tuhanku menjadi bukti betapa tegasnya penyair dalam menentukan sikap dalam memaknai rindu. Pernyataan ini pula yang menjadi bukti puncak kereligiusan Sugiyatno DM.

Kamar Hati, 14 Juni 2011

Rini Ganefa:

selamat unt mas SDM atas karya buku puisinya. saya tunggu karya berikutnya dan undangan launchingnya.

sugiyatno dm:

oke insyaa allah mbak rini ganefa aku juga tunggu karya penjenengan ya. sukses selalu

Leave a Reply