02  March  2011

Motor Adalah Siasat

Oleh Hikmat Darmawan

Jumlah motor di Jakarta hampir sama dengan jumlah penduduk ibukota semrawut kita ini: lebih dari delapan juta buah (penduduk Jakarta saat malam, artinya, yang sungguh-sungguh tidur dan berumah di Jakarta: 9.588.158 jiwa, menurut Sensus 2010). Begitulah catatan Beng Rahardian dalam komik pertama antologi unik ini.

Apa arti statistik itu?

Artinya, Jakarta sangat tak layak huni, sebetulnya. Trend pembangunan kota mutakhir sebetulnya menitikberatkan penilaian kelayakhunian kota dari hal-hal yang diabaikan Jakarta, seperti: tekanan pada transportasi umum (khususnya kereta), sepeda, dan pedestrian (jalur pejalan kaki) serta ruang-ruang publik yang luas. Lebih jelasnya, trend kota mutakhir dunia adalah mengurangi kendaraan bermotor pribadi, khususnya mobil pribadi.

Di Jakarta dan sekitarnya, mobil pribadi adalah raja. Semakin jalan macet di Jakarta serta kota-kota satelitnya, semakin dilebihkan jalan untuk mobil pribadi. Pedestrian dikurangi hingga nyaris tiada, pohon-pohon pinggir jalan ditebangi, kendaraan umum tak juga dibenahi. Boro-boro pula meluaskan jaringan kereta atau memperbanyak taman dan ruang-ruang publik untuk semua.

Dan neraka urban ini pun diterima sebagai sesuatu yang normal. Para warga dipaksa pandai-pandai bersiasat, agar bisa berjibaku sekadar hidup di Jakarta yang sudah termasuk sepuluh kota terpadat di dunia ini.

Siasat, laknat
Maka, motor adalah siasat. Di kota yang semakin kusut ini, jarak menjadi neraka: kepadatan tak memungkinkan perhitungan waktu normal. Kita bergerak dari sendat ke sendat. Bersepeda kadung tak nyaman. Berjalan, apalagi. Maka, motor jadi pilihan “mending” yang lumayan. Motor pribadi, ataupun ojeg.

Kenapa? Kumpulan komik (sesuatu yang kini sedang trend dalam penerbitan komik lokal) Kartun Motor: Berkah dan Bencana Motor ini memberi kilasan jawaban. Komik pertama, Ojegpedia karya Beng, mengulik cukup menarik serba-serbi ojeg –yang tak bisa dipisahkan, tentu saja, dari musabab warga kota macam Jakarta memilih motor. Satu kata: fleksibel.

Motor bisa lincah “menembus kemacetan”, “menyusup gang senggol”, dan seringkali seperti sengaja “menentang semua aturan”. Dan di tengah semua kekacauan, ojeg menjadi siasat khas. “Ojeg tidak diatur, tak terlindungi, tak bersubsidi, tidak memberi kontribusi pada pendapatan daerah, kini menjadi dilema besar kita semua karena kehadirannya yang tidak diharapkan itu justru memberikan solusi bagi transportasi warga,” tulis Beng (halaman 7).

Asyiknya, kumpulan ini seluruhnya setia pada sudut pandang pengendara motor. Bahkan saat sedang meledek dunia dan logika motor itu sendiri, seperti dalam rangkaian komik anekdotal yang kadang absurd dari Eko S. Bimantoro, Didie SW, dan Norvan “Pecandu Pagi” Hardian. (Catatan: ini adalah komik terakhir Norvan, yang juga mencipta seri Superkondom dan Pamali, sebelum wafat Desember 2010 lalu karena kanker.)

Juga ketika Vbi Djenggotten memarodikan kebencian “kaum bermobil” pada para pemotor, sudut pandangnya terasa tetap dari para pemotor. Dengan kocak, Vbi memarodikan lontaran gubernur DKI, Fauzi Bowo, Juli 2010 lalu, yang menyatakan bahwa biang keladi macet Jakarta adalah motor, sehingga digodok kebijakan untuk mengurangi penggunaan motor di kawasan tertentu.

Mungkin Vbi agak tak imbang saat mengabaikan begitu saja data dalam pernyataan Foke itu, bahwa di Jakarta, pertambahan jumlah motor bisa 900 unit per hari. Data ini menunjukkan, bahwa motor memang jadi masalah di Jakarta. Tapi, sebaliknya, sikap sang pelayan publik menyalahkan kemacetan Jakarta yang sungguh laknat itu hanya pada motor pun lebih tak adil lagi.

Dengan mengambinghitamkan motor, maka kekacauan perencanaan dan tatakota seolah dianggap bukan masalah utama. Maka parodi macam dari Vbi ini pun perlu.

Matang, walau kurang
Kelima komikus/kartunis plus editor cum kartunis Thomdean yang menggambar sampul dan mengantar kumpulan komik ini dengan komik, menampakkan kematangan teknis dan penceritaan. Yang paling menonjol, semua sudah memiliki gaya pribadi yang ajeg, dan kuat.

Beng menampakkan keterampilan teknis yang tinggi dalam mengguriskan garis. Ia menguasai penggunaan kuas (sesuatu yang jarang pada komikus muda angkatannya), bergaya agak “old school” dalam kartun, tapi juga terampil memanfaatkan alat bantu komputer/program grafis, untuk mengayakan desain komiknya. Ia juga cukup jeli pada yang alit-alit, sehingga mampu menabur humor dalam latar pada panel-panelnya (nongol-nya pocong atau gadis bermuka rata sebagai bagian latar beberapa panelnya, misalnya).

Keterampilan “old school” serupa juga tampak pada Didie SW, yang menyumbang rangkaian kartun gag bertema motor “modif” (modifikasi, maksudnya). Sementara Eko S. Bimantoro dan Novran, bergaya lebih “seenaknya”, tapi sudah punya ciri yang sangat khas. Dan Vbi, yang sering mengaku telat ngomik, semakin menampakkan insting bahasa komik yang bagus: timing (pengelolaan waktu) dalam susunan panel-panelnya sungguh esensial agar humor-humornya nonjok.

Sayang, masih banyak aspek dunia dan “logika” motor masih tercecer. Bagaimana dengan diskriminasi yang dialami motor-motor Jakarta di mal-mal, misalnya? Bagaimana dengan fenomena iring-iringan motor jemaah Majlis Rasul atau Nurul Mustofa yang khas itu? Bagaimana pula dengan kasta-kasta dalam dunia motor, terutama subkultur Moge (Motor Gede) yang sering terasa jumawa dan membuat orang kebanyakan ngedumel sendiri gara-gara merasa terintimidasi mereka? Bagaimana dengan dunia motor kota lain, selain Jakarta? (Jogjakarta, agaknya menarik.) Dan banyak lagi.

Tentu saja, ini hanya menandakan bahwa dunia motor di negeri kita telah melahirkan subkultur yang khas. Dilemanya pun bisa jadi adalah bom waktu, dan kumpulan komik/kartun semacam ini biasanya berfungsi nyentil agar kita mawas masalah semacam itu. Dan, semoga, ini menandakan bahwa memang kumpulan ini masih akan berlanjut, dan syukur jika terus mengulik aspek-aspek transportasi negeri kita lebih luas dan dalam lagi. ***

One Response to “Motor Adalah Siasat”

PREDIKSI NOMOR TOGEL JITU:

ASSALAMUALAIKUM SALAM SAYA TKI DI MALAYSIA
Maaf sebelumnya jika lewat Tempat ini saya menceritakan kisah hidup saya niat saya hanyalah semata ingin berbagi tapi semua tergantung Anda percaya atau tidak yg jelasnya inilah kenyataannya…
Syukur alhamdulillah kini saya bisa menghirup udara segar di indonesia karnah sudah sekian lama saya ingin pulang ke kampung halaman namun tak bisa karna ada hutang yang harus saya bayar di majikan yaitu 370 juta untuk uang indo namun,saya tidak pusing lagi sebab kemaring saya di berikan Info oleh seseorang yang tidak saya kenal,katanya kalau mengalami kesulitan Ekonomi,Terlilit hutang silahkan minta bantuan sama MBAH NUGROHO di Nomor Telpon (-0823-1920-8865-) di jamin bantuan beliau 100% …
BANTUAN DARI MBAH NUGROHO
1.PESUGIHAN
2.TOGEL
3. DANAH GHAIB
4.PENGGANDAAN UANG
5.UANG BALIK
6.PEMIKAT
7.PENGLARIS BISNIS (Jualan,Tokoh,warung)
8.PERLANJAR DALAM BERBAGAI HAL
Jadi saya beranikan diri menghubungi beliau dan menyampaikan semua masalah saya dan alhamdulillah saya bisa di bantu,kini semua hutang saya sama majikan di Saudi semua bisa terlunasi dan punya modal untuk pulang kampung,,,,
Jadi buat yang pengen seperti saya silahkan Hubungi MBAH NUGROHO di nomor (-0823-1920-8865-)

Leave a Reply