Kisah Secangkir Teh Indonesia
Di alam baka sana, boleh jadi Rudolf Eduard Kerkhoven sangat bangga menyaksikan teh yang pertama kali ditanamnya di kawasan Gambung, Bandung Selatan, Jawa Barat, pada 1872 berkembang pesat.
Tak hanya di Gambung, teh varietas Assamica yang dibawa Kerkhoven dari Sri Lanka itu kini juga tumbuh di hampir seluruh perkebunan teh di Tanah Air, terutama di Jawa dan Sumatera. Langkah Kerkhoven tak hanya itu. Pengusaha perkebunan asal Belanda itu kemudian ikut pula berperan memasarkan teh sebagai komoditas ekspor dan dijual di balai lelang Eropa. Sejak itu, Java tea berkembang menjadi merek dagang dan produk yang banyak diminati oleh bangsa-bangsa di dunia.
Kisah perjuangan Kerkhoven merintis perkebunan teh tersebut sempat dituangkan dalam sebuah buku berjudul Heren van de Thee karya pengarang Belanda, Hella S. Haasse. Adapun buku Real Tea Real Health karya Prawoto Indarto ini tak banyak berkisah tentang sejarah teh di Indonesia. Sejarah teh tersebut telah dipaparkan penulis dalam buku pertamanya,Teh Minuman Bangsa-Bangsa di Dunia, yang diterbitkan pada 2007.
Dalam buku keduanya ini, Indarto—yang juga pengurus Indonesia Teh Lover’s—lebih banyak menguak pelbagai manfaat teh bagi kesehatan. Salah satunya teh sebagai antioksidan yang sangat efektif untuk menetralkan radikal bebas dalam tubuh. Pusat Penelitian Antioksidan di London, Inggris, menemukan kandungan antioksidan dalam 2 cangkir teh setara dengan 7 gelas jus jeruk atau 20 gelas jus apel. Itu sangat dimungkinkan karena dalam teh terkandung katekin, zat bioaktif sebagai antioksidan.
Hampir 90 persen senyawa dalam teh berupa katekin. Menurut penelitian yang dilakukan di London, dalam jumlah yang sama, katekin mempunyai kemampuan lebih kuat dalam menangkap radikal bebas bila dibandingkan dengan vitamin C, E, dan unsur beta-karoten. Uniknya, katekin justru bekerja sinergis dengan vitamin C dan E.
Dari pelbagai penelitian, katekin dalam teh diketahui bersifat multifungsi. Katekin memiliki sifat antioksidasi, antiradang, antiproliferasi sel, antiagregasi (pengelompokan), menurunkan kadar kolesterol, menghambat pertumbuhan sel-sel kanker, serta melebarkan dan memperkuat pembuluh darah.
Penelitian panjang yang dilakukan di The Netherlands National Institute of Public Health and Environment menemukan bahwa teh bisa menekan risiko serangan stroke. Penelitian sepanjang 15 tahun itu menyimpulkan, teh mampu menekan produksi kolesterol jahat sebagai salah satu penyebab serangan jantung dan stroke.
Adapun penelitian yang dilakukan oleh Dr Joseph Vita di Boston’s School of Medicine, Amerika Serikat, pada 66 pria yang minum 4 cangkir teh per hari ternyata dapat membantu mengatasi masalah pembuluh darah yang tak normal. Seperti diketahui, masalah pembuluh darah menjadi pemicu serangan jantung dan stroke.Yang menarik, penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa perbaikan pembuluh darah itu terjadi hanya 2 jam setelah meminum teh.
Selain melindungi pembuluh darah, teh memiliki sifat antiagregasi (pengelompokan). Di dalam tubuh kita terdapat sel darah merah, sel darah putih, dan sel pembekuan darah. Bila ketiga sel tersebut bersatu, akan terbentuk gumpalan seperti kelereng yang menyangkut di pembuluh darah. Teh ternyata berfungsi sebagai antiagregasi, mencegah ketika sel tersebut mengelompok.
Manfaat teh lainnya adalah mencegah diabetes. Dalam pelbagai penelitian terbukti teh memiliki keunggulan dalam menekan kadar gula darah. Bahkan penelitian yang dilakukan di Universitas Dundee, Skotlandia, pada 2008 menemukan bahwa senyawa theaflavin—salah satu senyawa dalam katekin—yang terdapat dalam teh ternyata mampu menirukan proses kerja insulin. Hal ini memperkuat penelitian yang dilakukan oleh Departemen Pertanian Amerika, yang menyebutkan teh mempunyai potensi mengendalikan insulin.
Begitulah. Sebetulnya masih banyak lagi manfaat teh bagi kesehatan yang dipaparkan di buku ini, antara lain teh mampu mencegah radang gusi, kanker, alzheimer, dan menurunkan hipertensi. Dalam menguak pelbagai manfaat teh tersebut, penulis merujuk pada sejumlah literatur dan ratusan penelitian. Penulis juga mewawancarai sejumlah pakar kesehatan dan ahli teh, plus mengadakan riset bahan tulisan di Pusat Penelitian Teh dan Kina, Gambung, Bandung.
Yang cukup menarik, selain memaparkan secara terperinci aneka manfaat teh tersebut, buku ini mencoba meluruskan kesalahpahaman tentang teh. Selama ini sebagian besar masyarakat menganggap bahwa teh hijau, hitam, dan oolong dibuat dari jenis pohon yang berbeda. Padahal, baik teh hijau, hitam, maupun oolong, sebenarnya berasal dari jenis tanaman yang sama: Camellia sinensis. Di sini, Camellia yang banyak ditanam adalah varietas Assamica.
Perbedaan ketiga teh tersebut baru terbentuk dalam proses pengolahannya, yang dikenal dengan fermentasi atau para peneliti teh menyebutnya oksidasi enzimatis (oksimatis).Teh hijau diproses tanpa melalui fermentasi sehingga acap disebut teh unfermented. Teh hitam diproses dengan fermentasi penuh, maka kerap disebut sebagai teh fermented. Adapun teh oolong merupakan teh yang diproses setengah fermentasi atawa semi-fermented.
Teknik pemrosesan teh tersebut pertama kali diperkenalkan ketika Dinasti Ming berkuasa di Cina. Selain itu, Ming memperbarui pola penyajian minuman teh. Sementara sebelumnya teh direbus bersama-sama dengan air panas, sejak Dinasti Ming-lah teh mulai diseduh dengan menggunakan teko. Perubahan ini kemudian ikut memicu seni kerajinan keramik di Negeri Tirai Bambu itu berkembang sangat pesat. Waktu bergulir. Pola penyajian itu kemudian menular ke luar Cina. Dan teh pun kian mendapat tempat di pelbagai bangsa di dunia sebagai minuman unik yang berkelas. Chairman UK Tea Council William Gromen menyebutkan, teh merupakan minuman paling natural yang pernah ada di atas planet bumi ini.
Dan, lewat buku ini, penulisnya juga ingin menepis pelbagai rumor negatif yang berkembang di masyarakat yang telah menyudutkan teh, sehingga menempatkannya sebagai minuman inferior. Itu membuat teh masih acap disajikan dengan malu-malu manakala suguhan lain tak ada. Lalu meluncurlah kata-kata yang biasa diucapkan sang tuan rumah,“…Maaf, hanya ada teh.” (Kalim)
Koran Tempo 22 November 2009
[...] juga: Kisah Secangkir Teh Kata kunci: 2009, Indonesia Teh Lovers, Kesehatan, Prawoto [...]