17  February  2008

Keliling Jakarta Naik Busway

Oleh Darmaningtyas

“Jakarta punya Busway“. Itulah suatu idiom baru yang mengiringi penyebutan kota Jakarta saat ini.

Busway, yang arti sesungguhnya adalah jalur khusus bus, di Jakarta ini berubah pengertiannya menjadi identitas atau nama moda transportasi umum massal yang melaju di jalur khusus dan dikelola oleh Badan Layanan Umum Transjakarta, yang kemudian disebut Busway Transjakarta. Jadi sebutan busway di sini mempunyai dua makna. Pertama, menyebut “busway” saja, berarti itu sebagai suatu sistem, jalur khusus bus. Kedua, menyebutkan Busway Transjakarta, berarti itu nama perusahaan atau identitas diri moda angkutan massal di Jakarta yang melaju di jalur khusus bus. Dalam pengertian kedua ini maka kata “busway” ditulis dengan mengikuti kaidah EYD, diawali dengan huruf besar dan tidak dicetak miring. Kota-kota lain di dunia menyebut moda transportasi semacam itu adalah BRT (bus rapid transit).

BRT adalah satu bentuk angkutan umum massal yang berorientasi pelanggan dan mengombinasikan stasiun, kendaraan, perencanaan dan elemen-elemen sistem transportasi pintar ke dalam sebuah sistem yang terpadu dan memiliki satu identitas unik. Secara umum, BRT mempunyai ciri-ciri: memiliki koridor busway pada jalur terpisah-sejajar atau dipisahkan secara bertingkat-teknologi bus yang dimodernisasi, menaikkan dan menurunkan penumpang dengan cepat dan di tempat tertentu, penarikan ongkos melalui ticketing system (bukan oleh kondektur atau sopir), halte dan stasiun yang nyaman, teknologi bus yang bersih, integrasi antarmoda, dan layanan pelanggan yang sangat baik. Fenomena BRT ini berkembang di Amerika Latin, dimulai dari Curitiba (Brasil), kemudian diadopsi dengan mengalami penyempurnaan desain maupun manajemen oleh Wali Kota Bogota (Colombia) Enrique Penalosa.

Sebatas modernisasi
Busway Transjakarta sebagai nama lain dari BRT seharusnya memiliki ciri yang dimiliki oleh sistem BRT di dunia. Tapi sayang, sampai sekarang ciri yang dimiliki oleh Busway Transjakarta baru sebatas bentuk bus yang dimodernisasi, menaikkan dan menurunkan penumpang di tempat tertentu, penarikan ongkos melalui ticketing system, serta halte dan stasiun yang nyaman. Ciri lain sebagai sistem BRT belum dimiliki, sehingga para ahli transportasi selalu mengingatkan bahwa Busway Transjakarta belum menjadi sistem BRT karena memenuhi 60%-nya saja. Itulah yang menyebabkan Busway Transjakarta sampai sekarang belum mampu bekerja secara optimal dengan mengangkut jumlah penumpang yang banyak, seperti yang terjadi di Bogota yang mampu mengangkut 1,6 juta penumpang per hari (mengalahkan subway yang hanya 400.000 per hari).

Bagi orang awam, pengguna busway, mereka tidak peduli apakah keberadaan Busway Transjakarta sebagai sistem BRT itu sudah bagus atau belum. Bagi mereka yang penting ada informasi yang jelas dan mudah dimengerti bila mau naik busway agar tidak tersesat saat keliling Jakarta. Sebab, Jakarta ibarat hutan rimba yang tidak jelas ujung pangkalnya bagi orang baru di Jakarta, sehingga berjalan sendiri tanpa petunjuk jelas dapat tersesat betulan.

Warna-warni bus transjakarta yang berbeda di setiap koridor, tetapi pada titik tertentu bertemu di suatu tempat, seperti misalnya di Halte Harmoni atau yang lebih dkenal dengan sebuatan HCB (Harmoni Central Busway) dapat membingungkan calon pengguna utamanya yang baru pertama kali menggunakan busway.

Buku saku yang berjudul Keliling Jakarta Naik Busway, Yuuuk! ini merupakan salah satu buku petunjuk praktis bagi pendatang atau warga di Jakarta untuk naik busway. Sebagai buku petunjuk praktis, buku ini memuat peta jalur busway Koridor I-VII, nama-nama halte yang dilewati oleh setiap koridor, lokasi tujuan yang dikenal oleh umum dan berdekatan dengan halte busway, serta informasi mengenai nama-nama halte transfer yang dapat dipakai untuk melakukan perpindahan/ganti bus di setiap koridor sehingga mempermudah melakukan perjalanan di Jakarta dengan menggunakan angkutan transjakarta.

Menurut penulisnya, adanya bus transjakarta alias busway mengubah banyak hal dalam segi bepergian di ibu kota Jakarta, baik untuk bekerja setiap hari, keperluan insidental, ataupun sekadar jalan-jalan. Bagi penulisnya, kenikmatan paling besar naik busway adalah ketika busway kita melaju kencang dengan AC yang dingin, sementara orang-orang yang naik mobil pribadi harus menghitung jam dalam kemacetan.

Tujuh jalur busway bisa dibilang jadi tulang punggung transportasi Jakarta. Ibarat gurita, tangan dan kaki busway sekarang ada di berbagai pojok Jakarta, dan masih akan bertambah lagi sampai lima belas koridor. Bayangkan, dengan sekali bayar, kita bisa naik dari terminal di ujung Jakarta ke ujung yang lainnya, asalkan kita piawai turun-naik di halte. Ke mana pun Anda ingin melanjutkan perjalanan, buku ini siap membantu (hal VII).

Cara penggunaan buku ini sangat mudah. Anda tinggal mencari halte busway terdekat dari tempat Anda berada. Informasi tentang nama-nama halte itu diberikan per koridor (Koridor I-VII), sehingga Anda dapat mengetahui nama halte berikutnya. Anda perlu mengetahuinya karena tiap halte busway di sisi kanan dan kirinya merupakan jalur untuk bus pulang dan pergi.

Anda tinggal mencari halte tujuan Anda di dalam buku ini. Setelah itu, Anda tinggal menentukan perlu tidaknya Anda pindah jalur dan di halte mana hal itu perlu dilakukan. Sebagai contoh, dari Blok M mau menuju ke Kelapa Gading, maka Anda dapat naik Busway Transjakarta Koridor I lalu turun di Harmoni dan kemudian pindah ke Koridor II jurusan Harmoni-Pulo Gadung.

Selain diberikan informasi per koridor tersebut, buku ini juga memuat peta busway secara umum sehingga Anda dapat mengetahui jaringan busway yang sudah dibangun. Boleh jadi jaringan tersebut melintasi kawasan tempat tinggal Anda atau famili atau juga lokasi tempat kerja Anda. Informasi mengenai jaringan busway itu penting karena dapat membantu mempermudah menentukan perjalanan sesuai dengan kebutuhan Anda.

Informasi mengenai angkutan-angkutan pengumpan (feeder transport) yang dapat digunakan untuk menuju ke halte-halte busway atau melanjutkan perjalanan setelah turun dari Busway Transjakarta juga ditulis dalam buku ini. Meskipun harus disadari bahwa angkutan pengumpan yang dimaksudkan oleh penulisnya memang berbeda jauh dengan angkutan pengumpan seperti yang ada pada busway di Bogota (Transmelenio) yang terintegrasi dengan manajemen Transmelenio itu sendiri sehingga meningkatkan kinerja Transmelenio mengangkut penumpang dalam kapasitas yang banyak, aman, dan lancar. Sedangkan angkutan penghubung di sini lebih banyak terdiri dari angkutan permukiman yang diinisiasi maupun diprakarsai oleh masyarakat atau swasta secara mandiri. Tidak terkait sama sekali dengan manajemen Busway Transjakarta, sehingga belum dapat disebut sebagai suatu sistem yang utuh.

Meskipun demikian, informasi mengenai moda-moda angkutan yang dapat dipakai untuk melakukan transfer antar setelah turun dari Busway Transjakarta itu sangat berguna bagi pembaca, karena pembaca tidak perlu bingung akan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan moda transportasi apa. Dicontohkan, misalnya Anda dari Pulo Gadung akan ke rumah famili di Bumi Serpong Damai (BSD), Anda naik busway turun di Harmoni, kemudian pindah ke busway koridor I turun di Kota, dan kemudian dari Kota Anda pindah moda angkutan kereta api menuju ke BSD.

Buku ini tidak spesifik menulis panduan bagi calon penumpang busway saja, tapi lebih merupakan panduan untuk penumpang angkutan umum massal (metromini, kopaja, bus, Busway Transjakarta, dan kereta api). Penulisnya bertujuan ingin mendorong masyarakat untuk lebih banyak menggunakan angkutan umum sebagai moda transportasi yang paling efisien dan dapat mengurangi pencemaran udara, serta pemborosan energi. Pendidikan publik yang mampu mendorong masyarakat menggunakan angkutan umum massal itu sekarang penting untuk dilakukan, sebab tanpa ada kesediaan untuk mengurangi pemakaian kendaraan pribadi, kemacetan di Jakarta tidak mungkin teratasi. Busway merupakan salah satu solusi yang paling realistis diterapkan di Jakarta saat ini, karena selain biaya investasinya kecil, kapasitas angkutnya bila dimaksimalkan dapat melebihi subway. Kehadiran buku ini tepat momentumnya karena pada saat yang sama Pemerintah DKI Jakarta sedang mengalami serangan gencar atas pelaksanaan pembangunan busway. Suara yang seakan menuntut pembatalan proyek ini sangat kuat, sementara buku ini mengajak kita semua untuk makin banyak menggunakan angkutan umum, termasuk Busway Transjakarta yang dioperasikan pertama kali tanggal 1 Januari 2004.

Darmaningtyas, Direktur Instran dan Pengurus Masyarakat Transportasi Indonesia.
KOMPAS, Minggu 17 Feb 2008

Kata kunci: , ,

2 Responses to “Keliling Jakarta Naik Busway”

gw:

q

Budiman Indrajaya:

Wah, thx berat bro,, ane lagi mau ke kelapa gading sekarang. berarti harus ke Harmoni dulu y. tks y infonya

Leave a Reply