20  August  2005

Film Indonesia, Mati Suri Pun Tak Pernah

Oleh Veven SP Wardhana

Judul: Katalog Film Indonesia 1926-2005
Penulis: JB Kristanto
Penerbit: Nalar bekerjasama dengan Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta, 2005
Tebal: xxviii + 471 halaman

Cium dan ciuman senantiasa membuhulkan pro dan kontra, baik dalam Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-undang Hukum Pidana mutakhir maupun dalam film Indonesia, baik sebagai adegan dalam film maupun sebagai kata untuk judul film.

Film Izinkan Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2002) dan Buruan Cium Gue (2004) adalah sedikit contoh konkret yang berkait dengan perkara kata. Izinkan Aku Ingin Menciummu Sekali Saja diprotes sebagian masyarakat bahkan sebelum film ini dibuat. Gara-garanya, yang digambarkan ingin mencium seorang gadis adalah seorang pemuda penghuni pesantren. Garin Nugroho, sutradara sekaligus penulis skenarionya, kemudian merombak setting kisah ke Papua, kawasan yang sedang bergolak berkehendak merdeka, sama sekali tak ada gambaran santri dan pesantren, judulnya lalu menjadi Aku Ingin Menciummu Sekali Saja. Sementara judul Buruan Cium Gue ditafsirkan ustaz Aa Abdullah Gymnastiar sebagai “ajakan berzinah” sehingga produsernya, Raam Punjabi, menariknya dari peredaran dan merevisi di sana-sini, dan judulnya bermimikri menjadi Satu Kecupan.
Adegan ciuman dalam film kiwari yang langsung dibabat gunting Lembaga Sensor Film (LSF) adalah Ungu Violet dan Gie. Toh, ada perbedaan yang mendasari pengguntingan adegan ciuman dalam dua film yang disebutkan terakhir ini. Pengurangan lamanya adegan ciuman Dian Sastro dan Rizky Hanggono dalam Ungu Violet lebih dimaksudkan untuk “menjaga moral” agar penonton tak terbetot “pelajaran berciuman”, sementara pelenyapan adegan ciuman antara Wulan Guritno dan Nicholas Saputra dalam Gie lantaran (salah seorang anggota) LSF ingin “menjaga kemurnian sejarah”. Menurut LSF, sosok Soe Hok Gie, sosok nyata dalam sejarah 1960-an, “tidak mungkin melakukan ciuman”.

Soal “moral” dan “kemurnian sejarah” bisa diperdebatkan dan didiskusikan hingga berlarut-larut dan berlarat-larat. Toh, jika pun di masa kini masih terjadi pengubahan judul dan perombakan berkait adegan ciuman, itu ibarat mengulang sejarah yang sesungguhnya pernah terjadi pada lebih dari setengah abad lampau. Dulu, film hitam putih Antara Bumi dan Langit (produksi Stichting Hiburan Mataram, 1950) harus dirombak gara-gara datang gelombang protes dari masyarakat antara lain karena adegan ciuman. Film yang berkisah soal seorang lelaki pribumi yang tetap menyimpan benih asmara pada bekas kekasihnya, yang blasteran Belanda, lantas diubah judulnya menjadi Frieda, nama si dara blasteran.

Data perihal Antara Bumi dan Langit setidaknya dituliskan dalam buku Katalog Film Indonesia 1926-2005 susunan wartawan senior-cum-pengamat film JB Kristanto. Dari buku yang sama perihal film yang juga sama, informasi lainnya adalah: sutradara film ini, Dr Huyung- prajurit Jepang (nama registrasinya Hinatsu Eitaro) keturunan Korea bernama asli Hue Yong- adalah salah satu “guru” yang menetaskan sineas Usmar Ismail, yang kemudian hari dimaklumatkan sebagai bapak perfilman Indonesia.

Lewat buku ini juga terkuak bahwa inilah film pertama Indonesia yang menampilkan adegan ciuman, yang dilakukan S Bono dan Grace. Dengan data ini, karenanya, harus segera diralat catatan sejarah perfilman- sebagaimana pernah ditulis pers-bahwa film yang pertama kali menampilkan adegan ciuman bertajuk Dan Bunga-bunga Berguguran (1970), yang dimainkan Ratno Timoer dan Tuty S.

Jika data tentang Antara Bumi dan Langit tanpa bersengaja merombak sejarah (film) yang salah, kini dengan terbitnya Katalog Film Indonesia 1926- 2005-sebagai kelanjutan Katalog Film Indonesia 1926-1995 (PT Grafiasri Mukti, Jakarta, 1995)- Kristanto justru sengaja hendak menumbangkan banyak anggapan yang merumuskan paruh akhir dasawarsa 1990-an sebagai masa-masa matinya-setidaknya mati suri-film Indonesia. Kristanto mencatat, pada periode “mati suri” antara tahun 1995-1997 bahkan ada 88 film yang lolos sensor. Tahun 1994, awal “mati suri” itu tercatat 32 film diproduksi.

Jika ada paceklik produksi, dia katakan terjadi pada tahun 1998-1999, masa tumbangnya rezim Soeharto, yang ditandai dengan empat judul semata. Tahun-tahun berikutnya, jumlah film yang diproduksi justru meningkat jumlahnya, kecuali pada tahun 2001 hanya hanya diisi oleh tiga judul film.

Anggapan mati beneran atau mati suri perfilman Indonesia- HM Johan Tjasmadi dan Narto Erawan Dalimarta, masing-masing ketua dan sekretaris Badan Pertimbangan Perfilman Nasional, dalam prakata buku edisi 1995, juga mengatakan sebagai masa tersuram perfilman Indonesia-oleh Kristanto ditengarai karena film-film yang diproduksi itu kian tersisih dari bioskop Jaringan 21. Bukan semata karena Jaringan 21 yang bertebaran di mal-mal itu ter-”monopoli” film impor Hollywood, melainkan karena tema dan pola garap rata-rata film Indonesia lebih pas untuk konsumsi pinggiran kota, sementara para pengunjung mal relatif mempunyai perspektif yang berbeda dibandingkan dengan cara ucap film Indonesia kala itu. Selain itu, munculnya beberapa stasiun televisi yang konsumennya segala usia terlampau riskan untuk ditembus oleh film-film Indonesia yang mengeksploitasi sensualitas 17 tahun ke atas.

Memang, sebagaimana terderetkan dalam katalog, pada “puncak mati suri” itu judul-judul film Indonesia begitu gegap dengan kosakata “nafsu”, “seks”, “gairah”, dan semacamnya. Sekadar misalnya: Akibat Bebas Sex, Bergairah di Puncak, Bisikan Nafsu, Gairah Binal, Gairah Malam yang Ketiga, Gairah Perawan, Gairah Tabu, Membakar Gairah, dan seterusnya. Pada era inilah kian berkibar bintang sensual-antara lain-Windy Chindyana dan Malfin Shayna, yang paruh awal dasawarsa sebelumnya diisi Inneke Koesherawati.

Penyusunan buku yang dilakukan wartawan yang belum lama menjalani masa purnabakti dari surat kabar Kompas ini sungguh sebuah kerja yang luar biasa. Keluarbiasaan itu bukan semata dikarenakan menderetkan ribuan judul (edisi 1995: 2.261 film, edisi 2005: 2.438 film), terutama lebih dilantarankan kesadaran dokumentatif rata-rata masyarakat Indonesia yang relatif rendah. Itu sebabnya penulis buku ini kerap mendapatkan kesulitan justru dari produser film itu sendiri yang belakang hari menjadi bekas produser, yang tak pernah menyimpan data film produksi mereka, selain mencari akurasi dianggap sebagai
kerja sia-sia buang waktu dan buang tenaga. Keluarbiasaan juga mengingat jumlah kontributor yang men-support Kristanto terbilang teramat cekak: SM Ardan, Haris Jauhari, dan (almarhum) Harun Suwardi. Bandingkan dengan Mick Martin dan Marsha Porter, penyusun Video Movie Guide. (Ballantine Book, New York), yang harus mengerahkan 22 chief contributor.

Karena itu, jika kemudian ada data yang akurasinya terpertanyakan, tak jelas apakah itu lantaran jumlah kontributor yang minim sehingga energi untuk pengecekan ulang atas akurasi pun ikutan minim. Sekadar misal, dengan mendasarkan diri pada tahun pembikinan atau tahun syuting-bukan tahun peredaran-dalam buku ini film Gie terhitung produksi 2004. Dengan titik pijak yang sama, semestinya film Cinta Silver-dalam katalog ditulis Cinta untuk Silver-seharusnya dimasukkan produksi 2005 mengingat syutingnya-sebagaimana dikatakan Erwin Arnada, produser PT Rexinema Multimedia Pratama- dimulai Februari 2005.

Deretan film dalam buku ini tak berhenti pada data formal, kaku, dan dingin. Selain dalam sinopsisnya terkadang disertai semacam penilaian-misalnya: “kisahnya mengingat film lain”- saat tertentu bahkan dituliskan pula informasi yang tak berkait langsung dengan produksi film bersangkutan; misalnya tentang Mia Marta, aktris Heboh (1954), film pertama Nya Abbas Akup, hanya sekali itu main film karena kemudian disunting sebagai istri Nya Abbas. Namun, di lain saat ada “diskriminasi” karena data film lain tidak diperlakukan sama. Bahwa cerita dan skenario Antara Bumi dan Langit ditulis penovel Armijn Pane, misalnya, toh tak ada informasi tambahan Armijn Pane pun pernah menulis novel Belenggu (1940) yang melebihi-setidaknya setara- kontroversi film yang dia tulis. “Diskriminasi” ini jelas bukan kekurangan, malah justru kelebihan mengingat jika informasi model-model tentang Mia Marta itu dihilangkan pun tak mengganggu sama sekali.

Saya rasa, buku sejenis masih bisa ditulis lagi dengan “sudut pandang” berbeda, bukan untuk ditandingkan, melainkan untuk disandingkan karena bakal saling melengkapi. Jika katalog versi Kristanto ini disusun berdasarkan urutan tahun produksi, salah satu model sandingan itu bisa berdasar alfabetikal judul- sebagaimana dilakukan Mick Martin & Marsha Porter atau Leonard Maltin saat menulis Movie & Video Guide. (titik-titik ini, sebagaimana buku Porter & Martin, adalah angka tahun, yang senantiasa berubah saban tahun). Sekadar referensi, antara Martin & Porter dan Maltin pun ada pola penyusunan berbeda. Maltin mencampuradukkan kategori film dan video yang dia susun, sementara Martin & Porter menyusunnya berdasarkan 11 kategorisasi film, yakni laga/petualangan, anak-anak/keluarga, komedi, dokumenter, drama, horor, musikal, misteri/suspens, science-fiction/fantasi, western, dan film berbahasa asing.

Persoalan bakal muncul jika katalog atau book guide ala Indonesia mengadopsi mentah-mentah pola Martin & Porter karena tak ada kategori western dalam film Indonesia. Karena itu, bukan adopsi yang harus dilakukan, melainkan adaptasi sehingga genre western yang sesungguhnya bersejajar dengan historiografi Amerika Serikat itu bisa diisi oleh film-film legenda-”sejarah” model-model Saur Sepuh, Tutur Tinular, dan sebangsanya.

Bagi saya, justru buku Kristanto ini yang harus dijadikan acuan adopsi dan adaptasi book guide versi impor yang hanya mencantumkan nama sutradara dan para pemeran, sementara Kristanto juga mendata produser (nama perusahaan dan nama eksekutifnya), juru skenario, juru cerita, juru fotografi, juru musik, juru artistik, juru sunting, dan tata suara.

Veven SP Wardhana, penulis novel adaptasi film 12:00 am
KOMPAS, Sabtu 20 Aug 2005, halaman 43

Kata kunci: , ,

Leave a Reply