01  March  2010

Dari Kampung Bronx ke Wall Street

KOTA New York di awal abad ke-20 adalah kota yang sedang menikmati pertumbuhan puncaknya. Terutama sejak Kanal Erie, yang menghubungkan Great Lakes dengan New York, dibuka pada 1825 dan menjadi jalur utama pelayaran antara laut Atlantik di barat dan kawasan barat daya kota itu. Pada pertengahan 1800-an, kota itu dilintasi barang dan orang yang jauh lebih banyak dibanding semua pelabuhan Amerika dijadikan satu.

Para imigran Yahudi dari Eropa berdatangan, termasuk orang tua Will Eisner. Ayah Eisner berasal dari Wina dan bekerja sebagai pelukis latar panggung teater Yahudi. Ibunya dari Rumania. Eisner lahir pada 6 Maret 1917 di tengah suasana New York yang tengah berkembang.

Keluarganya bermukim di perkampungan kumuh Bronx. Semasa kecil Eisner menjajakan surat kabar untuk membantu keuangan keluarganya di kawasan Wall Street. Dari situlah dia dapat membaca komik di semua koran yang terbit di New York.

“Karya sastra pertama yang benar-benar mempengaruhiku adalah kisah-kisah Horatio Alger,” katanya, seperti dikutip Tom Heintjes dalam The Spirit: the Origin Years (1992). Horatio Alger adalah pengarang novel pop Amerika paling berpengaruh di akhir abad ke-19. Kesuksesannya dicapai lewat Ragged Dick; or, Street Life in New York with the Bootblacks, sebuah cerita serial pada 1867 yang mengisahkan seorang anak lelaki penyemir sepatu yang menjadi kaya raya.

“Itulah bacaan pertamaku,” kata Eisner. “Dia seakan bicara langsung padaku. Kisah-kisahnya mengangkat cerita orang biasa yang berhasil menembus rintangan. Itulah tema yang kembali aku angkat berkali-kali dalam karyaku.”

Keterampilan menulis dan artistik Eisner bersemi ketika dia masuk DeWitt Clinton High School. Bob Kane, yang kemudian terkenal sebagai pencipta Batman, adalah teman sekolahnya. Di sinilah Eisner membuat komik strip dan menggambar bermacam-macam majalah sekolah.

Di antara penerbitan awalnya, ada proyek bersama teman sekelasnya, Ken Ginniger, membuat semacam majalah sastra bernama The Lion and Unicorn. Majalah itu berisi gambar dan puisi serta beberapa nukilan karya Marcel Proust dan Albert Camus. Tapi, ketika hendak dicetak, ternyata pelat metal untuk pencetakan karya seni sangatlah mahal. Proyek ini gagal, tapi membuat Eisner belajar soal teknik cetak kayu.

Keterampilan seninya makin terasah ketika dia masuk Liga Pelajar Seni. Di sana dia belajar menggambar di bawah asuhan ahli anatomi legendaris George Bridgman. Setelah menyelesaikan sekolahnya, dalam usia 19 tahun, ia mendapat pekerjaan malam di bagian periklanan di koran New York American. Ia harus masuk kerja dari pukul sembilan malam hingga lima pagi.

Saat ia datang, orang-orang kantor pada umumnya pulang. Dengan bekal sandwich atau kue dari ibunya, dia akan duduk di tangga kantor dan mengawasi orang berlalu-lalang. “Aku melihat bermacam-macam karakter pada jam-jam aneh ini dan belajar banyak tentang bayangan dan pencahayaan,” katanya.

Eisner tak sepenuhnya menyukai kerja periklanan dan akhirnya keluar untuk menjadi pekerja lepas. Dia bertemu dengan Samuel Maxwell “Jerry” Iger, editor Wow! What A Magazine, majalah yang memuat beberapa komik. Dalam empat edisi yang terbit, karya Eisner selalu muncul.

Tapi Wow! kemudian gulung tikar. Meski jalinan persahabatannya dengan Iger membuahkan Eisner-Iger Studio, yang memproduksi komik-komik strip berbagai genre yang ditawarkan ke koran-koran. Mereka merekrut seniman muda, yang nantinya menjadi legenda komik, seperti Bob Kane dan Jack Kurtzberg (belakangan jadi Jack Kirby), yang turut melahirkan Spider-Man dan The Fantastic Four. Pada periode ini Eisner menerbitkan kisah bajak laut Hawks of the Seas, yang telah dimulainya sebagai The Flame dalam Wow!

Bisnis mereka berkembang. Salah satu klien pertama penting mereka adalah rumah penerbitan yang didirikan Victor Fox, bekas akuntan National Periodicals (kini DC Comics). Fox punya pesanan khusus, yaitu meminta Eisner membuat komik tokoh super yang menyaingi Superman terbitan National. Karya Jerry Siegel dan Joe Shuster tersebut saat itu sangat populer. Eisner menamai tokohnya Wonder Man.

Ketika Wonder Man terbit, National langsung menyiapkan gugatan. Suatu malam, Fox memanggil Eisner dan memintanya menyatakan bahwa dia tak menjiplak Superman dalam sidang nanti. Eisner menjawab bahwa dia memang tak menjiplaknya, tapi hanya mengikuti apa yang didiktekan Fox. Fox mengancam, jika Eisner menyampaikan kebenaran itu di sidang, dia akan kehilangan uang kontraknya US$ 3.000. Eisner bergeming dan tetap menyampaikan hal tersebut di sidang dan Fox pun kalah.

Eisner dan Iger mengira pabrik komik mereka bakal bangkrut. Tapi Fiction House muncul sebagai penyelamat. Kontrak mereka menghasilkan Sheena, Queen of the Jungle. Eisner mengaku menciptakan Sheena sebagai pasangan perempuan dari Tarzan dan memungut judulnya dari She karya H. Ryder Haggard. Sheena muncul pertama kali di Jungle Comics dan menikmati popularitasnya hingga 1953.

Eisner banyak menggambar komik untuk Fiction House, seperti Hawks of the Seas, semacam fiksi sains The Diary of Dr Hayward, Uncle Otto, dan Sports Shorts. Dia menggunakan macam-macam nama samaran untuk karyanya, seperti Mr Heck, Willis B. Rensie (”Eisner” dibaca terbalik), W. Morgan Thomas, Erwin Willis, dan Wm. Erwin.

Dalam usia 22 tahun, Eisner menikmati kejayaannya. Namun Eisner tampaknya belum puas atas pencapaiannya. Saat Everett M. Arnold, pemilik penerbitan Quality Comics, menawarinya 16 halaman komik koran Minggu yang disebar oleh Register & Tribune Syndicate, Eisner menerimanya. Ini memaksa Eisner meninggalkan studio Eisner & Iger.

Untuk proyek ini, Eisner menangani sendiri tujuh halaman komik Spirit. Spirit mengangkat kisah detektif Denny Colt, yang saat menjadi pemberantas kejahatan bernama Spirit, ia akan memakai topeng domino (seperti milik Zorro), jas kerja, dasi merah, topi fedora, dan sarung tangan. Spirit adalah pahlawan seperti dalam film noir yang populer di era itu. Eisner memakai detail kota besar New York sebagai latarnya. Komik ini sudah meninggalkan genre superhero yang lebih kekanakan dan masuk ke alam dewasa.

Spirit muncul pada 2 Juni 1940 dan berlanjut hingga 5 Oktober 1952. Petualangannya sempat terhenti ketika Eisner masuk wajib militer untuk Perang Dunia II pada 1942. Seusai perang, Eisner mendirikan American Visuals Corporation, perusahaan yang memproduksi komik, kartun, serta ilustrasi untuk kepentingan pendidikan dan hiburan. Dia menghidupkan kembali Joe Dope, tokoh tentara penggerutu yang dia ciptakan selama perang, di P*S Magazine, majalah yang dibikin Eisner untuk Angkatan Bersenjata selama 20 tahun.

Pencarian kreatif Eisner belumlah berhenti. Dia kemudian mencoba membuat komik-yang lebih dewasa dan serius, yang kemudian melahirkan genre novel grafis. Eisner menghabiskan waktu dua tahun untuk membuat empat cerita pendek yang terangkum dalam A Contract with God, yang pertama kali diterbitkan oleh Baronet Books pada 1978. Setelah itu, dia melahirkan 20 novel grafis dengan beragam tema, seperti cerita semi-otobiografis (The Dreamer dan To the Heart of the Storm), kehidupan modern (New York: The Big City dan Invisible People), serta fiksi sains (Life on Another Planet).

Novel grafis Eisner banyak merefleksikan kisah hidupnya, dari kehidupan kumuh di Bronx hingga kesibukan manusia di Wall Street. Di situ pula dia merekam kota besar, dalam hal ini Kota New York, bukan dengan kebesarannya, tapi hal-hal kecilnya.

“Dilihat dari jauh, kota-kota besar adalah sebuah akumulasi gedung besar, populasi besar, dan lapangan besar. Bagiku itu tidak “nyata”. Kota besar yang dilihat oleh penduduknya adalah hal yang nyata. Gambaran yang nyata itu adalah retakan-retakan di dinding dan sekitar keping-keping kecil dari arsitekturnya, tempat kehidupan biasa berputar,” katanya dalam pengantar New York: The Big City.

Detail sekali ia menggambarkan suasana kereta bawah tanah, tangga depan apartemen, sampah, musik jalanan, pengawas, jendela, dinding, sampai kamar-kamar tempat perselingkuhan. Eisner juga menyusun buku mengenai komik, Comics and Sequential Art dan Graphic Storytelling, yang praktis menjadi panduan utama para komikus Amerika profesional.

Eisner wafat pada 3 Januari 2005. Dunia mengenangnya sebagai komikus tangguh yang mampu menyajikan isi perut New York.

Kurniawan
Tempo, 7 Maret 2010, rubrik “Iqra”

Leave a Reply