Suasana di depan ruang diskusi. Pengunjung melihat-lihat dan membeli buku Trilogi Will Eisner.

Suasana di depan ruang diskusi. Pengunjung melihat-lihat dan membeli buku Trilogi Will Eisner.

Hikmat Darmawan (kiri), moderator, dan Seno Gumira Ajidarma saat diskusi berlangsung.

Hikmat Darmawan (kiri), moderator, dan Seno Gumira Ajidarma saat diskusi berlangsung.

Bersamaan dengan beredarnya buku Trilogi Kontrak dengan Tuhan: Kehidupan di Jalan Raya Dropsie, Bentara Budaya Jakarta dan Penerbit Nalar menyelenggarakan diskusi dengan topik “Will Esiner dan Novel Grafis” di BBJ tgl 16 Februari. Pengunjung yang hadir mendekati 100 orang. Menurut staf BBJ ini jumlah peserta diskusi di BBJ terbanyak untuk acara sejenis. Seno Gumira Ajidarma menguraikan secara gamblang peran Will Eisner dalam sejarah novel grafis dalam makalahnya sepanjang 11 halaman. Peserta diskusi juga cukup antusias menanggapi uraian pembicara, hingga waktu dua jam yang disediakan terasa cepat berlalu.

Baca makalah pembicara dan tulisannya di Kompas.

Rabu, 17 Februari 2010

JAKARTA, KOMPAS - Pembaca komik, komikus, dan penerbit komik sangat banyak di Indonesia, tetapi kehadiran novel grafis trilogi Kontrak dengan Tuhan, yang diterbitkan Penerbitan Nalar, karya Will Eisner—Bapak Novel Grafis, bisa membuka cakrawala baru di Indonesia. Sebab, di Amerika Serikat, penjualan novel grafis menjadi fenomena yang mencengangkan, penjualan melonjak dari dari 75 juta dollar AS tahun 2001 menjadi 207 juta dollar AS tahun 2004.

Demikian benang merah diskusi Will Eisner dan Novel Grafis yang digelar Bentara Budaya Jakarta (BBJ) bekerja sama dengan Penerbit Nalar, Selasa (16/2) di Jakarta. Tampil sebagai pembicara, sastrawan dan pencinta komik Seno Gumira Ajidarma. Diskusi dihadiri para komikus, sastrawan, dan pembaca komik dari Jakarta dan Bogor.

Seno Gumira Ajidarma mengatakan, pencapaian seperti Will Eisner belum terjadi di Indonesia. Will Eisner mengembangkan komik sebagai bahasa, berusaha mengeksplorasi bahasa komik sebagai bahasa gambar dengan kata-kata sebagai bagiannya. Jasa utama Eisner dalam sejarah komik (Amerika Serikat) adalah memberikan kecerdasan pada komik.

”Secara prinsip, Eisner berpendapat bahwa seni komik adalah seni keberuntungan dan karena itu bagaimana panil disusun dan gambar serta kata yang menjadi isi panil itu sendiri jadi menentukan. Eisner dengan contoh-contoh gambarnya berhasil menunjukkan bahwa justru dengan mempermainkan berbagai konvensi dalam penggambaran isi panil dan keberurutannya, bahasa komik terlihat keberdayaannya sebagai seni bahasa,” ujar Seno.

Kata bagian dari gambar

Dalam komik Eisner, lanjut Seno, kesadaran bahwa kata adalah adalah bagian dari gambar sangat kuat. Kata-kata tidak hadir demi kata-kata itu sendiri karena, dalam pendapat Eisner, gambar yang mestinya bercerita dengan susunan kata-kata yang sangat diperhatikan segi visualnya. Eisner justru menjamin komik yang digubahnya akan tampil sepenuhnya seperti yang selalu dikehendakinya, yakni komik berbobot ”sastra”.

”Dalam novel grafis karya Eisner, pembaca akan menemukan perkembangan strategi estetik, sebagaimana selalu dilakukannya. Tetapi, yang membuatnya menjadi novel grafis yang ia bedakan istilahnya dari ’sekadar’ komik adalah kandungan tematiknya.

Dipandu Hikmat Darmawan, Seno juga menyoal apakah benar komik itu lebih ”rendah” daripada novel grafis. Seno menegaskan, secara teknis novel grafis itu komik dan komik itu novel grafis, tetapi adalah kepentingan ideologis yang telah menyebabkan perbedaan penamaannya. Adapun pemberian nama adalah bagian dari proyek naratif penciptaan identitas diri.

JB Kristanto dari Penerbit Nalar mengatakan, pihaknya tertarik menerbitkan novel grafis karena karya Eisner adalah mahakarya, sebuah trilogi yang dikerjakannya dalam rentang waktu hampir 20 tahun. Novel grafis itu dia ciptakan pada usia senjanya, menjelang akhir karier panjangnya yang mencapai sekitar 70 tahun.

”Tidak sederhana menerjemahkan novel grafis trilogi Kontrak dengan Tuhan ini. Kami tidak menerjemahkan bahasa, tetapi kebudayaan. Karena itu, istilah-istilah yang khas tidak kami terjemahkan,” ujarnya.

Kontrak dengan Tuhan melukiskan keriangan, kegembiraan, tragedi, dan drama kehidupan di jalan raya Dropsie, Bronx, New York. Pada novel grafis Daya Hidup, Eisner tidak hanya mengisahkan zaman depresi akhir tahun 20-an hingga 30-an, tetapi juga bangkitnya Naziisme dan menyebarnya politik kiri di wilayah miskin kota New York. Dalam buku ini Eisner ”menjelmakan” diri dalam sosok Joseph Shtarkah yang pencarian makna hidupnya mencerminkan perjuangan pribadi Eisner.

Trilogi karya Will Eisner ini menjadi legendaris karena berhasil menciptakan sebuah cabang kesenian baru dan mengukuhkan Will Eisner sebagai perintis novel grafis. (NAL)

Oleh Frans Sartono


”Curhat /choor-hat/ singkatan dari curahan hati.” Begitu Tita Larasati memberi catatan pada kata pengantar karyanya, Curhat Tita. Ini adalah catatan harian grafis yang berbentuk serupa komik . Curhat, dan catatan kehidupan dalam bentuk sketsa itu menjadi komik alternatif yang mengajak pembaca untuk melihat dunia nyata secara lebih dekat.

Tita Larasati (36) adalah ibu dengan dua anak bernama Dhanu (7) dan Lindri (5). Setiap pagi, doktor lulusan Universitas Teknologi Delft, Belanda, 2007, itu mengantar anak-anaknya ke sekolah menggunakan angkot, alias angkutan kota. Setelah itu, ia mengayuh sepeda ke tempatnya mengajar di Jurusan Desain Produk Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dari rumahnya di kawasan Kanayakan, Dago, Bandung, Jawa Barat, Tita mula-mula harus menuntun sepeda karena jalan di kampung menanjak tajam. Selepas itu, ia tak perlu mengayuh karena jalan menurun terus menuju Kampus ITB di Taman Sari. Tita akan melesat di tengah jalanan Bandung yang penuh mobil angkot atau angkutan kota serta sepeda motor. Ia akan melewati penjaja serabi, nasi kuning, hingga bubur ayam di sekitar Simpang Dago. baca selanjutnya »

Oleh Mawar Kusuma

Ketika tim dari Universitas Gadjah Mada masih berkutat untuk penyelesaian jilid terakhir dari 12 jilid karya sastra Jawa Serat Centhini yang telah digarap sejak tahun 1996, Elizabeth D Inandiak mampu merangkum serta mengkreasikan Serat Centhini menjadi buku dalam tiga tahun.

Maka, tak heran kalau Ketua Tim Penerjemah Serat Centhini dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Marsono, menyatakan kekagumannya terhadap Elizabeth D Inandiak, penyair asal Perancis ini. Sebab, menerjemahkan atau mengkreasi ulang Serat Centhini bukan pekerjaan mudah.

Karya dari awal abad ke-19 ini tebal naskahnya 4.200 halaman, berbahasa Jawa klasik yang dipenuhi deskripsi detail. Irama bunyi-bunyian gamelan, misalnya, ditulis lengkap dan sering kali tak ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Serat Centhini yang memuat banyak hal tentang tanah Jawa sering disebut sebagai ensiklopedia kebudayaan Jawa. baca selanjutnya »

Oleh Wening Gitomartoyo

Duo kartunis Benny & Mice merangkul pembaca yang lebih luas ketika comic strip mereka muncul di koran Kompas setiap hari Minggu. Berjejer dengan deretan kartun berkelas lainnya, mereka menawarkan cara pandang terhadap Jakarta, dan yang paling jitu: para penghuni Jakarta dengan tingkahnya yang membuat geli. Hebatnya, ini semua disodorkan dari kacamata kedua tokoh ‘fiktif’ ini—Benny & Mice—sosok yang luwes bergerak di seluruh kelas masyarakat Jakarta, dan menyasar berbagai laku warga ibukota yang ingin tampil keren dan up to date, walau lebih sering gagal. Misalnya waktu banyak orang lalu lalang dengan perangkat flashdisk mungil bergelantungan di leher mereka, Benny & Mice tidak boleh kalah. Flashdisk 2 GB tidak cukup, mereka menyodok semua orang dengan menggantungkan hard disk dengan kapasitas masing-masing 40 GB dan 80 GB bertali di lehernya. Alhasil, karya mereka tidak berusaha tampil sebagai catatan sosial yang nyinyir dan penuh petuah. Kedua kawan yang telah bekerja sama sejak kuliah di Institut Kesenian Jakarta ini ‘hanya’ menyodorkan cermin besar ke hadapan Jakarta.
Benny Rachmadi dan Muh. ‘Mice’ Misrad sama-sama lulus dari IKJ tahun 1993. Nama mereka mulai dilirik oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) sejak membuat ilustrasi buku keluaran KPG, Matinya Ilmu Ekonomi” di tahun 1997. Dari situ, mereka ditawari untuk membuat buku kartun tentang Jakarta, yang kemudian bernama Lagak Jakarta. Dibagi berdasarkan beberapa tema besar seperti perilaku, transportasi, dan profesi, seri ini semakin bertaring ketika mengajukan tema krisis ekonomi. Hingga kini, total terdapat enam buah seri, dan masih berlanjut dengan Kartun Benny & Mice, Jakarta Luar Dalem (2007), 100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta (2008), dan Benny & Mice: Talk About Hape (2008). Ini juga dibarengi dengan kehadiran mereka setiap hari Minggu di suratkabar Kompas mulai tahun 2003. Hingga kini, buku mereka laris hingga ribuan kopi (Benny & Mice, Jakarta Luar Dalem terjual lebih dari 10 ribu kopi), dan nama mereka semakin diperhatikan. baca selanjutnya »