13  November  2005

Amerika Di Mata Kita

Oleh Burhanuddin

Judul : Benturan Peradaban: Sikap dan Perilaku Islamis Indonesia terhadap Amerika Serikat
Penulis : Saiful Mujani, Jajat Burhanuddin, et. all.
Penerbit : Freedom Institute, PPIM dan Penerbit Nalar.
Halaman : viii + 196
Ukuran : 14 x 21 cm

Dalam front flap buku The Class of Civilizations and the Remarking of World Order (1996a), termaktub komentar para editor Foreign Affairs yang menyatakan “tidak ada dalam sejarah artikel yang pernah diterbitkan jurnal terkemuka itu yang memantik perdebatan yang panas sejak artikel George Kennan “X” pada tahun 1940-an, kecuali artikel Huntington yang mengulas benturan peradaban.” Sebagai respon atas aneka kritik yang dialamatkan pada artikelnya, Huntington mengeksplorasi lebih dalam melalui buku yang kurang lebih mengambil judul yang sama.

Sejatinya, tidak ada tesa baru yang dikemukakan Huntington dalam bukunya itu, kecuali mengulang lagu lama yang sudah dia “nyanyikan” dalam tulisannya, Will More Countries Become Democratic (1984) dan The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century (1991). Konsistensi Huntington yang menyebut konstruksi budaya yang membentuk episteme yang beraneka rupa, semakin dipertegas dalam artikelnya, The West: Unique, Not Universal (1996b). Dia menolak singularitas kultural. Secara implisit, dia mengabaikan klaim kemenangan liberalisme Barat atas komunisme yang sudah buru-buru ditahbiskan Fukuyama (1992). Dengan mengutip Toynbee, Huntington menyebut tendensi “the mirage of mortality” semacam Fukuyama itu sebagai kamuflase (1996a: 301). “Esensi budaya Barat adalah Magna Carta, bukan Magna Mac, ”ujar Huntington,” merujuk fenomena Mac Donalisasi di seantero dunia.

Analisis provokatif-futuristik Huntington, sayangnya, terjebak pada narasi besar yang pada tingkat tertentu kurang mendapat justifikasi empirik. Untuk itulah, PPIM UIN Jakarta-Freedom Institute-Jaringan Islam Liberal (selanjutnya: PPIM-Freedom-JIL) melakukan survei kuantitatif dan kualitatif berskala nasional yang salah satunya ditujukan untuk membuktikan kesahihan tesa Huntington. Kolaborasi tiga lembaga itu pada dasarnya ditujukan untuk memotret sikap dan perilaku Muslim Indonesia terhadap Amerika Serikat. Galib diketahui, citra Amerika sebagai epitome Barat, mengalami defisit besar-besaran di dunia Muslim terbukti dengan kampanye perang antiterorisme yang mendapat resistensi di sebagian besar negara Islam. Survei Pew Research Center tahun 2002, 2003, 2004, dan 2005 menunjukkan bahwa dari 10 negara mayoritas Islam yang disurvei, termasuk Indonesia, hanya Uzbekistan yang memberi lampu hijau kepada Amerika untuk melanjutkan perang melawan terorisme.

Dengan realitas sui generis semacam itu, apakah sikap anti-Amerika di kalangan Muslim didorong oleh spirit anti-kapitalisme dan imperalisme global? Sederhananya, apakah kadar anti Amerika di kalangan Islam seiring sebangun dengan aktivis “kiri” yang rajin menggelar aksi anti-Amerika di Eropa, bahkan di Amerika sendiri? Ataukah, spirit anti-Amerika di masyarakat Muslim memiliki karakteristik tersendiri yang membedakan dengan Ken Livinstone, Michael Moore, atau Sean Penn? Jawabannya “ya” bila kita memakai asumsi Huntingtonian. Kritisisme orang Islam terhadap Amerika jelas berbeda dengan Walikota London dan sutradara Fahrenheit 9/11 atau aktor Hollywood yang terkenal itu. Keunikan tersebut terletak pada dimensi nilai, yakni adanya “suatu pandangan bahwa Islam memiliki semacam pranata yang lebih superior dan kaffah ketimbang sistem lainnya untuk diterapkan pada ruang publik.”

Pandangan Islamisme inilah yang coba diuji korelasinya dengan pembentukan sikap dan tindakan anti-Amerika melalui survei dengan metode multistage random sampling ini. Buku hasil survei ini membedakan Islamisme pada dua kategori. Pertama, dalam bentuk sikap yang ditandai dengan preferensi Muslim Indonesia terhadap redefinisi masalah publik seperti poligami, hak waris perempuan dan laki-laki, dan implementasi syariat. Kedua, pada tingkat tindakan, yaitu ditandai pemboikotan atas barang atau jasa produk Amerika, sweeping terhadap orang-orang asing maupun tempat-tempat publik yang dinilai bertentangan dengan kaidah Islam (h. 28). Aspek toleransi juga diukur untuk menentukan tinggi-rendahnya afirmasi terhadap Amerika.

Kontribusi orisinil buku ini juga terletak pada pemakaian variabel efikasi dan alienasi (deprivasi sosial) —yang biasa dikenal dalam studi protes sosial— untuk mengukur keikutsertaan Muslim dalam tindakan anti-Amerika (Islamist acts). Efikasi dalam konteks ini diukur dengan “seberapa yakin Islam akan mengalahkan musuh-musuhnya,” dan “seberapa ingin mereka mati syahid berperang di jalan Allah (jihad).” Di samping efikasi sebagai energi psikologis yang mendorong partisipasi dalam protes sosial, buku ini juga memasukkan variabel alineasi Islamis yang diukur dengan seberapa yakin Islam diperlakukan secara tidak adil oleh kelompok-kelompok lain (h. 33-34). Temuan survei yang direkam buku ini menunjukkan pengaruh alienasi Islamis bagi munculnya serangkaian Islamist acts yang meskipun proporsinya kecil, tapi cukup “merepotkan.” FPI, Hizbut Tahrir, MMI, KAMMI, PKS dan lain-lain dianggap representasi kaum Muslim yang aktif melakukan protes sosial terkait dengan tindakan anti-Amerika.

Namun demikian, data survei yang dikutip buku ini menunjukkan bahwa secara umum tindakan anti-Amerika dilakukan oleh relatif sangat sedikit orang Indonesia dalam kurun waktu lima tahun terakhir (dari berbagai indikator rata-rata di bawah 2 %). Tapi, Islamist acts tidak bisa dilihat dari proporsi kecil-besarnya, karena protes sosial terkait dengan banyak hal seperti aspek benefit-cost yang biasa dikenal dalam pendekatan rational choice. Adalah wajar dalam struktur masyarakat yang menyamai kurva normal, elemen yang bertindak ekstrem memiliki proporsi yang kecil. Untuk itu, buku ini menyodorkan variabel Islamist attitudes yang diukur dengan 17 indikator, seperti derajat ketidaksukaan terhadap Amerika, persetujuan terhadap penyerangan Irak dan Afghanistan, sikap terhadap perang melawan terorisme dan lain-lain (h. 43- 46). Secara umum, sentimen negatif terhadap Amerika muncul dalam proporsi yang cukup signifikan. Dengan kata lain, variasi anti-Amerika lebih besar ditemukan dalam bentuk sikap.

Sehubungan dengan variabel toleransi sebagai salah satu parameter yang dimasukkan penulis buku ini untuk mengukur derajat anti-Amerika, diperoleh data bahwa pemeluk agama lain tidak akan senang terhadap seorang muslim karena agama yang dianutnya. Responden muslim yang mengafirmasikannya juga makin besar frekuensinya. Toleransi yang menjadi soko guru demokrasi juga makin defisit. Hal ini ditunjukkan oleh cukup banyak kalangan muslim yang keberatan kalau orang Kristen menjadi guru di sekolah negeri (24,8%), mengadakan kebaktian (40,8%) atau membangun gereja di wilayah tinggal seorang muslim (49,9%). Buku ini kemudian coba menarik korelasi antara defisit toleransi di kalangan muslim dengan besarnya frekuensi anti-Amerika.

Di samping itu, afirmasi terhadap agenda Islamis juga dipercaya turut menyumbang besarnya sikap anti-Amerika di kalangan Muslim Indonesia. Cukup besar yang setuju dengan pelaksanaan hukum potong tangan bagi pencuri (40%), dengan poligami (39%), dengan pelarangan bunga bank (41%), dengan pola pembagian waris (58%), dengan hukum rajam bagi pezina (55%), dan dengan ketidaksetujuan perempuan menjadi presiden (41,1%) sebagai ukuran dari keharusan hanya laki-laki yang boleh menjadi pemimpin. Agenda-agenda Islamis yang inherently incompatible dengan nilai-nilai demokrasi itu menunjukkan defisit kebebasan sipil di tengah keberhasilan kita menyelenggarakan demokrasi elektoral terbesar sepanjang sejarah dunia Islam. Terlebih lagi, bila dikomparasikan dengan data serupa pada survei nasional tahun 1999, 2001 dan 2003, terjadi kenaikan indeks agenda Islamis.

Secara umum, buku ini berhasil membuktikan bahwa keempat komponen Islamisme seperti agenda Islamis, efikasi Islamis, dan intoleransi, secara statistik, memiliki pengaruh terhadap sikap anti-Amerika pada P-value 0,05 atau lebih baik. Di sinilah letak keunggulan buku ini. Terlebih lagi, buku ini didasarkan pada survei kuantitatif dengan klaim inferensi seluruh warga Muslim dari Sabang sampai Merauke dan diikuti dengan penelitian kualitatif mendalam terhadap 60 aktivis Muslim di beberapa provinsi. Sebagai orang yang terlibat dalam data collecting survei yang menjadi bahan utama buku ini, saya dapat memastikan kesahihan data yang ditunjukkan dengan akurasi dan presisi yang baik ketika diuji dengan data BPS yang menjadi sampling frame-nya. Saya membayangkan betapa “bahagianya” Huntington dan pendukungnya ketika tesisnya mendapat justifikasi empirik. Tak heran, penulis buku ini memasang judul “Benturan Peradaban” yang selama ini menjadi “ikon” Huntington.

Buku ini juga berhasil memotret lahirnya varian Islam baru, yakni ‘demokrat Islamis.’ Demokrat Islamis adalah warga muslim yang mendukung dan menjalankan demokrasi, setidaknya demokrasi elektoral, tetapi tetap memperteguh identitas dan agenda-agenda Islam yang eksklusif bagi kehidupan publik. Bagi sebagian orang, demokrat Islamis adalah suatu contradictio in terminis. Menilik dari hasil survei yang menunjukkan afirmasi positif Muslim Indonesia terhadap demokrasi, serta voters turn- out kalangan Muslim yang masih tinggi dalam rangkaian pemilu legislatif dan pilpres pada 2004, tapi masih terdapat defisit yang cukup tinggi pada level kebebasan sipil, maka sulit untuk menepis kenyataan makin maraknya varian baru demokrat Islamis dalam perpolitikan di tanah air. Genre “demokrat religius” yang ditemukan Saiful Mujani pada survei tiga tahun sebelumnya, dan dia narasikan secara optimistik dalam disertasinya, kini terpaksa dia revisi dengan “demokrat Islamis.”

Namun demikian, buku yang didasarkan pada survei kuantitatif dan kualitatif atas preferensi masyarakat Muslim atas Amerika pada 1-6 November 2004 ini sangat terpaku oleh dimensi waktu. Tiga bulan setelah itu, di bawah bendera Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Terror Free Tomorrow, saya terlibat dalam proyek penelitian serupa. Terjadi perubahan yang cukup dinamis di mana proporsi yang mendukung atau menentang perang melawan terorisme yang dipimpin Amerika berubah menjadi 40/36 persen. Sentimen negatif terhadap Amerika secara umum juga menurun. Setelah dikorelasikan ternyata terkait dengan bantuan Amerika secara masif terhadap korban tsunami di Aceh yang kebetulan mendapat publikasi luas dari media di tanah air. Selain itu, buku ini juga terlalu “tipis” untuk sebuah survei dengan kuisoner 200-an pertanyaan dan indepth interviews terhadap pentolan-pentolan aktivis Islamis di seluruh Nusantara. Banyak data survei yang belum diulas dan disajikan dalam buku. Data komparatif dengan hasil-hasil survei sebelumnya yang dimiliki PPIM UIN Jakarta dan LSI juga belum kelihatan. Agaknya, masih banyak PR yang menumpuk bagi tim penulis kalau berminat mengelaborasi lebih dalam temuan-temuan survei ini[]
***

* Burhanuddin adalah Redaktur Jaringan Islam Liberal (JIL), staf pengajar UIN Syarif Hidayatullah, dan peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI).

Leave a Reply